RABU, 29 MARET 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMAPBS) mengadakan peringatan 50 tahun berdirinya Yayasan Supersemar Tahun 1966-2016 dengan cara diskusi nasional bertemakan ‘Implikasi Supersemar Bagi Peradaban Indonesia’ di Aula Ahmad Dahlan, Hotel Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Inn Malang, Rabu (30/3/2016).

Rektor UMM, Drs. Fauzan MPd menerangkan, dirinya merupakan salah satu penerima beasiswa Supersemar yang disebutnya sebagai dewa penolong. Pasalnya, dari uang beasiswa Supersemar sebesar Rp.300 ribu tersebut menjadi penolong kelanjutan kuliahnya di UMM.
“Saya penerima beasiswa Supersemar tahun 1985,” terangnya didepan puluhan mahasiswa.
Fauzan menceritakan dengan uang Rp.300 ribu tersebut dirinya tengah menjalani kuliah semester 5 sekaligus melunasi uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebanyak Rp.180 ribu hingga semester 8.
“Sisa Rp.120 ribu saya gunakan untuk membeli gerobak dan saya tabung,” jelasnya.
Gerobak tersebut digunakan Fauzan untuk disewakan kepada para warga dengan uang sewa per hari Rp.750. Hasil dari gerobak tersebut ditabung. Hingga pada Tahun 1989 dirinya lulus dan ditugaskan mengajar di UMM, nasib gerobaknya juga berubah. Gerobak miliknya diperbaiki dengan roda baru dan cat baru.
“Lalu saya memberikan gerobak tersebut kepada bapak penyewa, bapak ini Supersemar untuk bapak,” tukasnya disambut tepuk tangan meriah dari para peserta.
Mantan Pembantu Rektor II UMM ini juga berpesan kepada para peserta untuk bisa meneladani pesan Soekarno untuk berdikari dan pesan Soeharto untuk tetap menjadi jati diri bangsa.
“Negara jika ingin maju harus meneladani pesan kedua Presiden tersebut,” tegasnya.
Ketua KMAPBS Universitas Brawijaya (UB), Sherin Fatturani menambahkan dirinya ingin masalah yang membelit yayasan Supersemar bisa cepat selesai dan kucuran dana tetap mengalir jangan sampai berhenti.
“Sebanyak 14 ribu penerima beasiswa Supersemar tersebar di seluruh Indonesia nasibnya terkatung-katung, saya berharap kepada Presiden untuk mengatasi lancarnya kucuran dana agar tidak ada lagi mahasiswa yang dirugikan,” pungkasnya.