Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 12/03/2026
Dunia sedang memasuki fase ketegangan geopolitik baru. Rivalitas antara Amerika Serikat, Rusia, dan Republik Rakyat Tiongkok semakin terlihat dalam berbagai bidang. Mulai dari militer, teknologi, hingga ekonomi global.
Namun arah akhir dari rivalitas ini belum sepenuhnya jelas bentuk konfrontasinya. Setidaknya ada tiga kemungkinan skenario yang dapat terjadi dalam dinamika geopolitik dunia ke depan.
Kemungkinan pertama adalah munculnya “Perang Dingin baru”. Dalam skenario ini, rivalitas antara kekuatan besar berlangsung tajam tetapi tetap terkendali.
Amerika Serikat dan Tiongkok bersaing dalam teknologi, perdagangan, dan pengaruh politik global. Sementara Rusia memainkan peran penting dalam keseimbangan militer.
Konflik langsung antara kekuatan besar dihindari karena risiko kehancuran yang terlalu besar. Terutama akibat keberadaan senjata nuklir. Dalam situasi seperti ini, ketegangan dikelola sedemikian rupa agar tidak melampaui batas yang merugikan semua pihak.
Kemungkinan kedua adalah terbentuknya dunia multipolar. Dalam situasi ini, kekuatan global tidak hanya didominasi oleh dua atau tiga negara saja. Sejumlah negara lain—seperti India, Uni Eropa, atau kekuatan regional besar—ikut memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan dunia.
Aliansi menjadi lebih fleksibel. Negara-negara dapat bekerja sama dengan pihak berbeda dalam isu yang berbeda pula.
Kemungkinan ketiga adalah terjadinya krisis besar yang memicu konflik lebih luas. Konflik regional yang tampaknya terbatas dapat berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar jika melibatkan aliansi militer atau kepentingan strategis kekuatan besar.
Wilayah-wilayah sensitif seperti Eropa Timur, Laut Cina Selatan, atau Selat Taiwan sering disebut sebagai titik yang berpotensi memicu eskalasi semacam ini. Konflik regional yang bisa menyeret eskalasi lebih luas.
Namun pada dasarnya, rivalitas geopolitik modern tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan militer. Yang diperebutkan adalah sumber-sumber kemakmuran: jalur perdagangan, energi, teknologi, pasar, serta kendali atas rantai pasok global.
Karena itu, kekuatan besar cenderung mengelola ketegangan agar tidak berubah menjadi perang terbuka. Karena justru merusak sumber kemakmuran tersebut.
Lebih sering terjadi adalah perang tidak langsung atau proxy war. Dalam pola ini, negara-negara yang berada di luar lingkar kekuatan besar menjadi arena perebutan pengaruh. Mereka menanggung kerusakan ekonomi, korban manusia, dan instabilitas politik yang jauh lebih berat dibandingkan para kekuatan besar yang bersaing.
Di tengah berbagai kemungkinan tersebut, Indonesia perlu menjaga posisi strategisnya. Politik luar negeri bebas dan aktif tetap relevan sebagai prinsip dasar.
Indonesia tidak perlu terjebak dalam pilihan blok kekuatan mana pun. Sebaliknya, Indonesia dapat berperan sebagai penyeimbang dan juru damai dalam dinamika kawasan.
Pada saat yang sama, Indonesia perlu bersikap realistis dan pragmatis. Pergeseran geopolitik global juga membuka peluang ekonomi: relokasi industri, diversifikasi perdagangan, dan penguatan posisi dalam rantai pasok dunia.
Dengan stabilitas dalam negeri yang kuat, Indonesia dapat menghindari menjadi arena konflik. Sekaligus memanfaatkan dinamika global untuk memperkuat kemakmuran nasional.
Dengan demikian, posisi terbaik Indonesia adalah tetap mandiri dalam menentukan kepentingan nasionalnya. Menjaga perdamaian, memperkuat ekonomi, dan memanfaatkan perubahan geopolitik dunia untuk kesejahteraan rakyat.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.