Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 12/03/2026
Sering kali agama dipersepsikan hanya berbicara tentang ritual dan moralitas pribadi. Padahal, Al-Qur’an juga memuat etos ekonomi yang kuat. Termasuk dorongan untuk bekerja, berdagang, dan membangun kemandirian.
Spirit kewirausahaan ini merupakan bagian dari visi Islam tentang manusia sebagai khalifah di bumi. Ialah makhluk aktif, produktif, dan bertanggung jawab.
Al-Qur’an secara eksplisit mendorong umatnya untuk mencari rezeki melalui usaha yang halal. Dalam QS. Al-Jumu’ah (62:10), umat diperintahkan “bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah” setelah menunaikan ibadah.
Ayat ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak memusuhi aktivitas ekonomi. Justru kerja produktif dipandang sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Prinsip lain yang fundamental adalah legitimasi perdagangan. QS. Al-Baqarah (2:275) menegaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Artinya, aktivitas bisnis diakui sebagai mekanisme sah untuk memperoleh kekayaan, selama dilakukan secara adil dan tidak eksploitatif.
Selain itu, Al-Qur’an juga menekankan etika pasar. Dalam QS. Al-Mutaffifin (83:1–3), praktik kecurangan dalam timbangan dikecam keras. Pesan moralnya jelas. Kejujuran, transparansi, dan keadilan adalah fondasi aktivitas ekonomi.
Bahkan prinsip tanggung jawab individu ditegaskan dalam QS. An-Najm (53:39). Manusia tidak memperoleh selain dari apa yang diusahakannya.
Kombinasi nilai ini membentuk etos kewirausahaan yang menggabungkan kerja keras, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Spirit tersebut tercermin dalam generasi awal Islam. Nabi Muhammad sendiri dikenal sebagai pedagang sebelum masa kenabian.
Banyak sahabat juga merupakan pengusaha sukses. Seperti Abdurrahman ibn Awf yang membangun kekayaannya melalui perdagangan tanpa meninggalkan komitmen sosial.
Pada masa klasik, kota-kota seperti Baghdad dan Cairo berkembang sebagai pusat perdagangan global. Pedagang Muslim terlibat dalam jaringan luas dari Afrika Timur hingga Asia Tenggara melalui jalur seperti Silk Road.
Dunia Islam saat itu menjadi salah satu motor ekonomi global.
Namun dalam beberapa abad terakhir, dinamika tersebut mengalami kemerosotan relatif. Kolonialisme, perubahan jalur perdagangan global, dan dominasi negara dalam ekonomi di banyak negara Muslim melemahkan kelas pedagang dan inovasi bisnis. Akibatnya, spirit kewirausahaan yang dulu menjadi ciri peradaban Islam tidak lagi tampak sekuat masa lalu.
Meski demikian, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Di berbagai negara Muslim, generasi baru wirausaha muncul melalui teknologi, ekonomi digital, dan keuangan syariah. Kota-kota seperti Dubai dan Jakarta menjadi contoh munculnya ekosistem bisnis baru.
Karena itu, membaca kembali Al-Qur’an dengan perspektif kewirausahaan bukan sekadar romantisme sejarah. Ia adalah upaya menghidupkan kembali etos produktif yang sejak awal telah menjadi bagian dari tradisi Islam.
Etos produkti itu ialah bekerja keras, berdagang secara adil, dan memanfaatkan kekayaan untuk kemaslahatan bersama.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.