Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 11/03/2026
Di setiap bulan Ramadan, umat Islam menantikan datangnya Lailatul Qadar. Malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “lebih baik dari seribu bulan”.
Namun sebuah pertanyaan teologis menarik muncul. Apakah Lailatul Qadar hanya terjadi sekali ketika Al-Qur’an diturunkan ataukah ia berulang setiap tahun?
Pendapat pertama menyatakan bahwa Lailatul Qadar berkaitan terutama dengan momentum sejarah turunnya Al-Qur’an. Dasarnya adalah ayat pertama Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”
Dari sudut pandang ini, kemuliaan malam tersebut muncul karena peristiwa monumental turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Beberapa riwayat tafsir menisbatkan pandangan ini kepada sebagian ulama tabi’in seperti Ikrimah, murid dari Ibn Abbas.
Menurut penafsiran ini, Lailatul Qadar pada dasarnya adalah malam historis ketika wahyu pertama turun. Kemuliaannya melekat pada peristiwa tersebut.
Namun, pandangan ini tidak menjadi arus utama dalam tradisi keilmuan Islam. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi setiap tahun pada bulan Ramadan. Pendapat ini didukung oleh banyak ulama besar seperti Ibn Taymiyyah, Al-Nawawi, dan Ibn Katsir.
Dasar utama pandangan ini adalah hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.” Perintah untuk “mencari” malam tersebut setiap Ramadan menunjukkan bahwa ia bukan sekadar peristiwa masa lalu. Melainkan malam yang terus berulang.
Selain itu, Surah Al-Qadr ayat 4 menggunakan kata kerja tanazzalu (turunlah para malaikat). Oleh para ahli tafsir dipahami sebagai bentuk yang menunjukkan peristiwa berulang.
Ayat lain, Surah Ad-Dukhan ayat 4, menyebut bahwa pada malam itu “diputuskan setiap urusan yang penuh hikmah”. Oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai penetapan takdir tahunan. Jika penetapan itu terjadi setiap tahun, maka malam tersebut pun harus berulang.
Karena itu, sebagian ulama menyimpulkan kompromi makna: Lailatul Qadar memang pertama kali menjadi mulia karena turunnya Al-Qur’an. Tetapi kemuliaannya tidak berhenti pada peristiwa itu. Allah menjadikannya malam istimewa yang kembali hadir setiap Ramadan hingga akhir zaman.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan dinamika tafsir dalam tradisi Islam. Namun secara praktik keagamaan, umat Islam tetap bersatu dalam satu hal: menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah.
Berharap berjumpa dengan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.