Ronda Sahur: Lebih dari Sekadar Ritme Dini Hari

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 08/03/2026

 

 

Bagi banyak kampung dan kota di Indonesia, Ramadan identik dengan tradisi ronda sahur. Dari beduk di Jawa, kentongan di Sumatera, hingga motor keliling dengan pengeras suara di kota besar.

Aktivitas ini lebih dari sekadar pengingat waktu makan dini hari sebelum berpuasa. Ia adalah ekspresi kebersamaan, kreativitas lokal, dan bahkan kebahagiaan kolektif.

Di pedesaan Jawa, beduk dipukul bergema dari masjid ke masjid. Di Sumatera, kentongan menjadi suara khas sahur. Di Sulawesi, terompet keliling menghidupkan suasana dini hari.

Khusus di wilayah Mataraman dan Jawa Timur Barat, ronda sahur era dulu menggunakan musik bambu yang dipukul-pukul untuk membangunkan warga. Kini, banyak yang beralih ke sound system keliling. Menghadirkan warna modern tanpa menghilangkan semangat kebersamaannya.

Menariknya, ronda sahur juga menjadi ajang kontestasi kreativitas positif. Anak-anak muda berlomba menghadirkan irama unik, yel-yel khas, atau aransemen musik sederhana yang menghibur warga.

Semua digerakkan bukan oleh kompetisi formal. Melainkan oleh kesadaran partisipatif untuk saling mengingatkan sahur.

Di sinilah letak nilai sosialnya: kreativitas tumbuh dari tanggung jawab kolektif. Fenomena seperti “ngabuburit malam sahur” menunjukkan bahwa energi komunal ini melahirkan keceriaan. Bukan kegaduhan semata.

Dalam perspektif psikologi sosial, aktivitas kolektif seperti ini menciptakan healing sosial—rasa aman, keterikatan, dan kebahagiaan bersama. Robert Putnam (2000) menyebutnya sebagai penguatan social capital. Ketika interaksi rutin membangun kepercayaan dan solidaritas.

Sementara dalam kerangka Sociocultural Theory (Vygotsky, 1978), pembelajaran dan identitas sosial terbentuk melalui interaksi komunitas. Ronda sahur menjadi ruang belajar sosial lintas generasi.

Tradisi serupa juga hadir di negara Muslim lain. Di Mesir, Musaharati menabuh gendang sambil memanggil warga. Turki memiliki Ramazan Davulcusu yang berkeliling dari rumah ke rumah. Variasi ini menunjukkan bahwa ekspresi religius selalu berdialog dengan budaya lokal.

Selain mempererat sosial, ronda sahur berdampak pada ekonomi komunitas. Pedagang makanan sahur memperoleh tambahan penghasilan. Jasa peralatan suara digunakan. Di beberapa daerah festival sahur bahkan menarik wisatawan.

Pada akhirnya, ronda sahur membuktikan bahwa ritual dini hari bisa menjadi perekat komunitas, panggung kreativitas positif, sekaligus sumber kebahagiaan kolektif. Dari musik bambu hingga sound system keliling.

Ramadan di Indonesia bukan hanya tentang menahan lapar. Tetapi tentang merayakan partisipasi, solidaritas, dan energi kreatif yang tumbuh dari kesadaran bersama.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...