Bantul – Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menyatakan dukungannya terhadap inovasi budidaya bawang bombai di lahan pasir kawasan pesisir selatan Bantul yang menggunakan teknologi smart farming. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah maju dalam modernisasi sektor pertanian sekaligus peluang untuk mengurangi ketergantungan impor bawang bombai nasional.
“Saya mendukung penuh inovasi penanaman bawang bombai di lahan pasir ini karena menunjukkan bahwa petani kita mampu beradaptasi dengan teknologi modern. Harapan saya, program ini bisa berhasil dan menjadi percontohan bagi daerah lain sehingga kesejahteraan petani meningkat dan kebutuhan bawang bombai nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri,” ujar Titiek Soeharto.
Sejumlah petani lahan pasir di kawasan pesisir pantai selatan Bantul saat ini mulai mencoba membudidayakan bawang bombai untuk pertama kalinya. Penanaman dilakukan dengan teknologi smart farming yang memanfaatkan perangkat pertanian canggih seperti sensor kelembapan, tingkat keasaman atau pH tanah, hingga kadar nutrisi dalam tanah.
Bibit bawang bombai varietas Trovi yang diimpor langsung dari Belanda dipilih karena dinilai sangat adaptif sehingga cocok ditanam di dataran rendah termasuk kawasan pesisir.
Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Srigading, Sanden, Bantul, Sumarna, mengatakan pada tahap uji coba ini pihaknya menanam sebanyak 10.000 benih dari biji di lahan seluas 1.000 meter persegi.
“Kita yakin uji coba ini akan berhasil karena kita menerapkan sistem smart farming. Mulai dari penggunaan sistem pengairan kabut yang dapat dikendalikan dengan telepon seluler, hingga sensor kelembapan, tingkat keasaman atau pH tanah, sampai kadar nutrisi dalam tanah yang bekerja secara otomatis,” ungkapnya Jumat (08/05/2026).
Dengan sistem ini, jika tingkat keasaman atau pH tanah naik, maka sensor akan mendeteksi dan melakukan pengendalian lewat metode solenoid valve atau katup solenoid.
Sistem tersebut bekerja menggunakan metode fertigasi atau otomasi pertanian berbasis IoT (Internet of Things). Nantinya solenoid bertindak sebagai pintu air otomatis yang diatur mikrokontroler untuk menyalurkan larutan penetral pH seperti kapur dolomit cair atau asam humat.
“Sebelumnya sudah saya coba untuk komoditas bawang merah dan berhasil. Semoga dengan komoditas bawang bombai ini juga bisa berhasil,” katanya.
Hingga saat ini budidaya bawang bombai masih sangat jarang dilakukan di Indonesia karena minimnya pengetahuan teknik budidaya di kalangan petani. Kondisi tersebut membuat sekitar 95 persen kebutuhan bawang bombai nasional masih dipenuhi dari impor.
Padahal secara geografis Indonesia dinilai memiliki banyak lahan yang cocok untuk pengembangan bawang bombai, termasuk lahan pasir di kawasan pesisir.
Dengan potensi pasar yang masih sangat luas, Sumarna optimistis uji coba pengembangan bawang bombai tersebut akan berhasil. Dari 10 ribu bibit yang ditanam, hasil panen diproyeksikan mencapai 9 kuintal hingga 1,2 ton dalam masa panen sekitar 60 hari dengan harga jual Rp20-25 ribu per kilogram.
“Saya yakin meski di lahan pasir akan berhasil. Lahan pasir cocok karena memiliki tingkat drainase yang bagus. Baik saat musim hujan maupun kemarau tidak masalah. Yang penting kita tahu SOP-nya,” katanya.