Pariwisata Halal Indonesia

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 05/05/2026

 

 

Pariwisata halal kini berkembang menjadi salah satu segmen paling dinamis dalam industri perjalanan global. Pertumbuhannya didorong meningkatnya kelas menengah Muslim dunia. Berupa mobilitas internasional, serta kebutuhan akan layanan wisata yang lebih aman, bersih, dan ramah keluarga.

Secara global, wisatawan Muslim diperkirakan melakukan lebih dari 140 juta perjalanan internasional per tahun. Diproyeksi meningkat hingga 230 juta perjalanan pada 2030.

Nilai belanja wisatawan Muslim juga sangat besar. Mencapai sekitar USD 200–300 miliar per tahun. Setara kurang lebih Rp3.200–Rp4.800 triliun per tahun (kurs ±Rp16.000/USD).

Angka ini menempatkan wisata halal sebagai salah satu pasar pariwisata terbesar dan tercepat tumbuh di dunia.

Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis untuk menangkap peluang ini. Dengan sekitar 87% penduduk beragama Islam, Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Tetapi juga memiliki ekosistem sosial yang secara alami mendukung kebutuhan wisata halal.

Keunggulan ini mencakup ketersediaan makanan halal yang luas, budaya yang ramah keluarga, serta kemudahan akses fasilitas ibadah di berbagai wilayah.

Dari sisi ekonomi, potensi yang bisa ditangkap Indonesia dari pasar wisata halal global sangat signifikan. Jika Indonesia mampu merebut sekitar 10–15% pasar wisata Muslim dunia, maka nilai devisa yang dapat diperoleh diperkirakan mencapai USD 20–40 miliar per tahun. Setara Rp320–Rp640 triliun per tahun.

Dalam skenario moderat sebesar 20–25% pangsa pasar, angkanya bisa meningkat menjadi USD 40–70 miliar. Sekitar Rp640 triliun hingga Rp1.120 triliun per tahun. Bahkan dalam skenario agresif, Indonesia berpotensi memperoleh lebih dari Rp1.600 triliun per tahun dari sektor ini.

Potensi tersebut tercermin dari kekuatan beberapa destinasi utama. Lombok—khususnya Mandalika—telah menjadi salah satu ikon wisata halal Indonesia yang diakui secara internasional.

Sumatera Barat menawarkan keunikan wisata budaya Islam berbasis adat Minangkabau. Sementara Yogyakarta memperkuat segmen wisata keluarga Muslim dan pendidikan.

Di sisi lain, destinasi global seperti Bali dan Labuan Bajo tetap memiliki peran penting sebagai pusat wisata internasional. Destinasi ini dapat dikembangkan menjadi halal-friendly destination tanpa mengubah karakter globalnya.

Tantangan utama Indonesia bukan pada kurangnya destinasi. Melainkan pada standarisasi layanan, integrasi ekosistem, dan branding global yang belum konsisten.

Banyak daerah sebenarnya sudah halal secara alami. Tetapi belum memiliki sistem sertifikasi, informasi digital, dan promosi internasional yang terstruktur.

Padahal, wisata halal modern tidak hanya soal makanan halal. Tetapi juga mencakup kenyamanan ibadah. Transparansi layanan. Pengalaman wisata yang inklusif.

Jika dikelola secara serius dan terintegrasi, pariwisata halal bukan hanya menjadi segmen tambahan. Tetapi dapat bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia bernilai ratusan hingga ribuan triliun rupiah per tahun.

Lebih dari itu, sektor ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada satu destinasi utama, Bali. Wisata halaal bisa menciptakan pemerataan ekonomi pariwisata di berbagai daerah.

Dengan fondasi demografi, budaya, dan kekayaan destinasi yang dimiliki, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi salah satu pusat utama wisata halal dunia. Bukan hanya sebagai peserta. Tetapi sebagai pemimpin pasar global.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...