Jalan Kebangkitan Ummat Islam: Pendidikan Terintegrasi dan Ekonomi Halal

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 15/01/2026

 

Narasi kebangkitan umat Islam dalam konteks global berangkat dari kesadaran historis akan kemunduran peradaban yang pernah memimpin dunia berabad-abad. Banyak pemikir menandai Jamaluddin al-Afghani pada akhir abad ke-19 sebagai figur penting. Ia berhasil mengartikulasikan kegelisahan kolektif umat Islam terhadap kolonialisme dan dominasi Barat modern.

Sejak awal abad ke-20, gagasan kebangkitan ini terus bertransformasi. Mulai dari pembaruan pemikiran keislaman, gerakan sosial-keagamaan, hingga mobilisasi politik lintas negara. Namun setelah lebih dari satu abad, yang paling menonjol di panggung global justru ekspresi kebangkitan Islam dalam bentuk gerakan politik konfrontatif terhadap hegemoni Amerika Serikat, Barat, maupun rezim non-Islam.

Persoalannya, pendekatan politik ini tidak ditopang fondasi struktural kuat. Secara statistik, banyak negara mayoritas Muslim masih tertinggal dalam indikator pembangunan dasar.

Laporan UNDP menunjukkan rata-rata Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berada di bawah rata-rata global. Pada 2023, hanya sekitar 10 negara OKI yang masuk kategori “very high human development”. Sementara sebagian besar berada pada kategori menengah dan rendah.

Dalam bidang pendidikan tinggi dan riset, kontribusi negara-negara Muslim terhadap publikasi ilmiah global diperkirakan di bawah 10 persen. Meskipun mereka mewakili hampir 25 persen populasi dunia. Kualitas sumber daya manusia yang lemah ini berimplikasi langsung pada rapuhnya fondasi ekonomi dan teknologi.

Lihat juga...