Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 04/03/2026
Di banyak ruang publik dunia Muslim, perlawanan terhadap Barat kerap dibingkai sebagai panggilan sejarah dan kewajiban moral. Retorika tentang perang peradaban, musuh eksternal, dan konspirasi global menjadi bahasa politik yang emosional dan mobilisatoris.
Pertanyaan mendasarnya jarang diajukan secara jernih. Apakah pola perlawanan yang reaktif dan konfrontatif itu lebih dekat pada kemenangan perjuaangan. Atau justru memperkuat pihak yang hendak dilawan?
Apa yang bisa disebut sebagai Islamisme Reaktif adalah orientasi politik yang membangun identitas. Terutama melalui oposisi—anti-Barat, anti-sistem global—tanpa agenda pembangunan institusional yang matang.
Energi politiknya bertumpu pada resistensi simbolik. Bukan pada penguatan kapasitas ekonomi, teknologi, dan tata kelola. Dalam jangka pendek, narasi ini efektif membangkitkan solidaritas. Dalam jangka panjang, ia sering menghasilkan paradoks.
Dalam sistem internasional modern, retorika konfrontatif berbasis identitas agama mudah dibingkai sebagai ancaman keamanan global. Ketika konflik diposisikan sebagai ancaman eksistensial, negara-negara besar memperoleh legitimasi untuk meningkatkan anggaran pertahanan, memperluas aliansi militer, dan memperketat kebijakan keamanan.
Industri pertahanan hidup dari persepsi ancaman. Semakin besar ancaman yang dipersepsikan, semakin kuat justifikasi ekspansi militer.
Di sinilah lingkaran itu terbentuk. Ialah resistensi yang diniatkan untuk membela martabat justru memperkuat logika keamanan global yang represif.
Dalam teori hubungan internasional, situasi ini dikenal sebagai security dilemma. Ketika tindakan defensif satu pihak dipersepsikan sebagai ofensif oleh pihak lain. Pada akhirnya memicu spiral eskalasi.
Namun autokritik tidak berarti menyerah pada ketidakadilan global. Kritik terhadap standar ganda, intervensi sepihak, atau ketimpangan sistem internasional tetap sah dan perlu. Yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk dan strateginya.
Solusi konstruktifnya adalah menggeser energi politik dari oposisi permanen menuju pembangunan kapasitas riil. Kekuatan peradaban lahir dari institusi yang kuat. Pendidikan unggul. Inovasi teknologi. Integrasi ekonomi regional. Juga tata kelola yang akuntabel.
Kritik terhadap Barat dapat ditempuh melalui jalur hukum internasional, diplomasi multilateral, dan koalisi lintas negara. Bukan melalui narasi perang identitas.
Kolaborasi selektif berbasis kepentingan bersama—stabilitas ekonomi, keamanan energi, perubahan iklim, perdagangan, dan pemberantasan ekstremisme—jauh lebih efektif daripada polarisasi simbolik. Interdependensi strategis membuat konflik mahal bagi semua pihak dan membuka ruang tawar yang lebih setara.
Jika tujuan akhirnya adalah martabat dan kemandirian umat, maka strategi proaktif lebih menjanjikan daripada reaksi emosional. Tanpa refleksi dan koreksi arah, Islamisme reaktif berisiko bukan hanya gagal mencapai cita-citanya. Tetapi juga tanpa sadar menghidupkan industri perang yang justru mempersempit ruang gerak dunia Islam sendiri.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.