Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 11/03/2026
Perang selalu meninggalkan penderitaan yang panjang. Namun dalam dunia modern, perang tidak hanya ditopang oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh jaringan ekonomi global.
Senjata, logistik, teknologi, hingga propaganda memerlukan dukungan finansial yang sangat besar. Karena itu, ketika dominasi militer sulit dilawan secara langsung, masyarakat sipil dunia masih memiliki satu instrumen penting. Ialah tekanan ekonomi melalui gerilya boikot.
Data global menunjukkan betapa besar peran ekonomi dalam menopang kekuatan militer. Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer dunia pada 2023 mencapai sekitar 2,4 triliun dolar AS.
Dari jumlah itu, hampir 40 persen berasal dari United States, yang merupakan penyokong utama berbagai aliansi militer global. Sementara itu, Israel termasuk negara dengan belanja militer per kapita tertinggi di dunia. Pengeluaran pertahanan mencapai lebih dari 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perang bukan hanya soal strategi militer. Tetapi juga tentang arus uang dan dukungan pasar. Dalam konteks ini, pilihan konsumsi masyarakat global menjadi relevan secara politik.
Gerilya ekonomi—yakni penolakan konsumen terhadap produk negara atau perusahaan yang terkait dengan kebijakan perang—dapat menjadi bentuk tekanan non-kekerasan. Melawan tanpa senjata militer.
Gagasan ini sejalan dengan teori perlawanan sipil yang dikembangkan Gene Sharp. Ia menegaskan bahwa kekuasaan politik bertumpu pada berbagai sumber dukungan, termasuk ekonomi dan legitimasi sosial. Ketika dukungan itu melemah, kekuatan politik pun ikut tergerus.
Dengan kata lain, pasar bukanlah ruang yang netral. Ia dapat menjadi arena perjuangan moral.
Gerilya ekonomi tidak harus berarti menolak seluruh produk dari suatu negara. Strateginya justru lebih efektif jika selektif: menolak produk yang sebenarnya dapat diproduksi oleh negara lain atau oleh industri lokal.
Ketika konsumen beralih pada alternatif tersebut, dampaknya ganda. Di satu sisi, tekanan ekonomi meningkat terhadap perusahaan yang dianggap terkait dengan kebijakan perang. Di sisi lain, ekonomi alternatif dan produksi lokal ikut menguat.
Sejarah memberikan pelajaran penting. Tekanan boikot global terhadap rezim Apartheid di South Africa pada akhir abad ke-20 terbukti memainkan peran signifikan dalam mengisolasi rezim tersebut secara ekonomi dan politik. Kampanye itu melibatkan universitas, konsumen, investor, hingga perusahaan multinasional di berbagai negara.
Tentu saja, gerilya ekonomi bukan solusi tunggal untuk menghentikan perang. Namun ia adalah instrumen moral yang nyata. Di era globalisasi, jutaan keputusan kecil dari konsumen dapat terakumulasi menjadi kekuatan ekonomi yang besar.
Jika ideologi perang berdiri di atas jaringan ekonomi global, maka perlawanan terhadapnya juga dapat dibangun melalui jaringan yang sama.
Gerilya ekonomi adalah cara masyarakat dunia mengingatkan bahwa keuntungan tidak boleh berdiri di atas penderitaan manusia. Ketika bisnis dibangun di atas tetesan darah manusia.
Jangan diam. Setiap orang memiliki potensi untuk menolak perang. Kita mungkin tidak memegang senjata atau kekuasaan politik, tetapi kita memiliki pilihan ekonomi.
Gunakan pilihan itu. Tolak produk yang menopang ideologi perang, dan dukung alternatif yang lebih adil. Dari jutaan keputusan kecil itulah tekanan besar dapat lahir.
Inilah saatnya masyarakat dunia bergerak. Melawan perang melalui gerilya ekonomi.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.