Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 30/01/2026
Dalam wacana publik, kisah para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw., kerap diseret untuk membenarkan gagasan bahwa agama—khususnya Islam—, sejak awal berdiri di atas logika perang. Ibrahim berhadapan dengan Namrud, Musa melawan Fir’aun, dan Isa hidup di bawah kekuasaan Romawi. Dibaca sebagai narasi konflik iman yang secara inheren bersifat militer.
Pembacaan ini bukan hanya menyederhanakan sejarah. Tetapi juga menyesatkan secara teologis.
Ibrahim berhadapan dengan Namrud, seorang penguasa yang menuhankan diri dan memonopoli kebenaran. Namun perlawanan Ibrahim tidak pernah berbentuk angkat senjata.
Ia melawan dengan argumen, membongkar logika kekuasaan yang disakralkan, dan mempertahankan tauhid sebagai sikap personal yang teguh. Bahkan ketika ia dihukum dibakar hidup-hidup, tidak ada pemberontakan, tidak ada perang, dan tidak ada legitimasi kekerasan.
Kisah ini justru menunjukkan bahwa kebenaran iman tidak memerlukan dominasi politik untuk membuktikan dirinya.
Musa menghadapi Fir’aun yang jauh lebih brutal: penindasan sistemik, perbudakan, dan pembunuhan bayi laki-laki. Namun sekali lagi, misi Musa bukanlah perang penaklukan.
Al-Qur’an menekankan bahwa Musa diperintahkan berbicara dengan kata-kata lembut dan meminta pembebasan Bani Israil. Bukan kehancuran Mesir. Akhir kisah ini pun bukan kemenangan militer. Melainkan eksodus.
Tenggelamnya Fir’aun bukan hasil strategi perang Musa. Tetapi konsekuensi dari agresi Fir’aun sendiri. Konteksnya jelas: pembebasan kaum tertindas, bukan perang demi penyebaran iman.
Kisah Isa bahkan lebih tegas. Ia hidup di bawah Imperium Romawi. Kekuatan kolonial yang menindas dan kejam. Pada masa itu, perlawanan bersenjata bukan hal asing.
Namun Isa tidak memilih jalur tersebut. Ia tidak membangun pasukan. Tidak menyerukan revolusi, dan tidak mengaitkan misinya dengan perebutan kekuasaan. Fokusnya adalah pembaruan moral dan spiritual, serta kritik terhadap kemunafikan elite agama.
Dalam Al-Qur’an, tidak ada satu pun ayat yang mengaitkan Isa dengan perang melawan Romawi. Fakta ini penting: keberadaan penindasan politik tidak otomatis melahirkan legitimasi teologis untuk kekerasan.
Ketiga kisah ini memperlihatkan pola yang konsisten: perang bukan instrumen utama perjuangan iman. Para nabi menghadapi tirani dengan metode yang berbeda-beda. Semuanya non-militer. Jika demikian, menjadikan kisah-kisah ini sebagai dasar pembenaran ayat-ayat perang dalam Islam adalah kekeliruan metodologis.
Itu adalah pembacaan retrospektif—menarik kesimpulan tentang ajaran agama dari praktik konflik dan kekuasaan. Kemudian memproyeksikannya seolah-olah sebagai perintah ilahi yang abadi.
Ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an muncul dalam konteks yang sangat spesifik: komunitas Muslim yang diserang, diusir, dan terancam eksistensinya. Ayat-ayat itu berbicara tentang izin mempertahankan diri dan pembatasan kekerasan. Bukan tentang konversi paksa atau ekspansi iman.
Dengan kata lain, perang dalam Islam adalah pengecualian etis. Bukan fondasi dakwah.
Membedakan kisah kenabian dari ayat perang bukan sekadar soal tafsir akademis. Ini menyangkut cara Islam dipahami hari ini. Apakah sebagai ajaran moral yang menjunjung tanggung jawab etis, atau sebagai ideologi kekuasaan yang dibaca mundur dari sejarah imperium.
Kisah Ibrahim, Musa, dan Isa dengan jelas berpihak pada yang pertama.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.