Prabowo dalam Pusaran Elit Global

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 03/03/2026

 

 

Nama Prabowo Subianto hari ini tidak lagi semata dibicarakan dalam konteks politik domestik. Ia telah masuk ke pusaran dinamika elit global.

Bertemu kepala negara, menghadiri forum strategis, dan bernegosiasi di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Intensitas diplomasi yang ia jalankan menempatkan Indonesia bukan sekadar penonton. Tetapi aktor yang diperhitungkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir tak ada forum besar tanpa kehadiran Indonesia. Mulai dari G20 hingga ASEAN. Keterlibatannya dalam inisiatif Board of Peace (BOP) untuk mendorong perdamaian Gaza menjadi contoh bagaimana Indonesia masuk dalam dinamika utama percaturan global. Bukan sekadar mengikuti arus.

Di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta konflik yang melibatkan Israel dan Iran, pendekatan yang diambil Prabowo tampak jelas. Mendekati semua pihak, menjaga komunikasi, dan memperluas ruang tawar Indonesia.

Latar belakangnya sebagai mantan komandan militer membentuk gaya berbeda. Ia terbiasa menghadapi lawan secara langsung, membaca peta kekuatan, dan mengambil keputusan dalam tekanan.

Di panggung global, karakter ini justru menjadi modal. Diplomasi yang ia jalankan tidak pasif, melainkan proaktif. Mendatangi pusat-pusat kekuatan dunia, membuka pintu kerja sama pertahanan, perdagangan, dan investasi.

Sejumlah kerja sama investasi yang masuk ke Indonesia menjadi contoh konkret. Bagaimana diplomasi luar negeri diterjemahkan ke dalam manfaat domestik.

Namun di dalam negeri, dinamika itu tidak selalu linear. Dalam kasus tudingan penculikan aktivis 1998, ia memilih tidak berkonfrontasi secara terbuka dengan bangsanya sendiri.

Ia membantah tudingan tersebut. Tetapi tidak membangun perlawanan frontal yang berpotensi memperlebar luka sosial.

Jika di luar negeri ia tampak percaya diri dan lugas, di dalam negeri ia lebih berhati-hati. Bahkan cenderung mengalah ketika berhadapan dengan opini publik yang keras.

Di situlah paradoks itu terlihat. Keberanian eksternal dan kehati-hatian internal.

Capaian luar negeri yang kini menonjol bukan hanya soal perdagangan. Dalam isu Gaza, ketika wilayah itu dibombardir, diplomasi Indonesia mendorong gencatan senjata antara Hamas dan Israel sebagai langkah kemanusiaan.

Seruan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi bagian dari tekanan moral global. Hamas-Israel benar-benar gencaran senjata walau dengan sjumlah pelanggaran. Itu fakta. Gaza bukan obyek bumi hangus sebagaimana beberapa buan lalu.

Bahkan keberanian menawarkan diri sebagai juru damai dalam eskalasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan sikap proaktif Indonesia. Jika berhasil, itu lompatan diplomatik.

Jika belum berhasil, setidaknya ada satu keuntungan. Pembelajaran strategis dalam membaca peta kekuatan dunia.

Harus diingat, Indonesia memang bukan negara superpower. Masuk percaturan elit global saja sudah merupakan kemajuan besar.

Di sanalah pintu negosiasi kepentingan nasional terbuka. Baik untuk investasi, stabilitas kawasan, maupun posisi tawar politik luar negeri. Setidaknya melindungi kedauatan dalam negeri dalam eskalasi geopolitik.

Terlepas dari berhasil atau belum setiap inisiatif, figur dengan keberanian seperti Presiden Prabowo relatif langka dalam situasi global yang serba cair dan penuh ketidakpastian. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik. Melainkan dukungan konstruktif agar setiap langkah diplomasi dapat dimaksimalkan bagi kepentingan Indonesia.

Sejarah pada akhirnya tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga keberanian untuk hadir dan mengambil peran. Dalam pusaran elit global, keberanian itu sendiri sudah menjadi modal penting bagi masa depan Indonesia.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...