Prabowo Anugerah Bagi Indonesia

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 24/03/2026

 

 

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia tidak bisa lagi memandang politik dalam negeri dan luar negeri sebagai dua hal terpisah. Keduanya saling terkait. Saling mempengaruhi. Menentukan posisi bangsa dalam percaturan dunia.

Dalam konteks inilah, kepemimpinan Prabowo Subianto layak dilihat sebagai sebuah anugerah strategis bagi Indonesia.

Selama bertahun-tahun, publik Indonesia—terutama mayoritas Muslim—memiliki kepedulian besar terhadap isu Palestina. Namun, kepedulian tersebut sering berhenti pada level moral dan pernyataan politik.

Di era Prabowo, terdapat pergeseran pendekatan: dari sekadar retorika menuju upaya masuk ke lingkaran aktor utama global. Ini bukan soal keberanian semata. Melainkan kapasitas untuk membangun komunikasi, membuka jalur negosiasi, dan membawa Indonesia ke level diplomasi lebih tinggi.

Indonesia bukan kekuatan militer atau ekonomi utama dunia. Data menunjukkan kontribusi Indonesia terhadap PDB global masih di kisaran 2–3 persen. Jauh di bawah negara-negara besar. Dalam sektor teknologi dan distribusi global, Indonesia juga masih bergantung pada kekuatan eksternal.

Karena itu, pendekatan realistis menjadi kunci. Bukan memaksakan diri menjadi penentu. Tetapi memaksimalkan posisi sebagai middle power strategis.

Di sinilah keunggulan Prabowo terlihat. Ia tidak hanya fokus pada diplomasi luar negeri sebagai simbol. Tetapi sebagai instrumen untuk membuka akses pasar, teknologi, dan kerja sama strategis.

Dalam dunia yang dikuasai oleh jaringan global, kemampuan bertemu dan bernegosiasi dengan aktor utama adalah aset yang tidak ternilai. Aktor langka bagi banyak negara.

Namun, yang sering luput dari perhatian adalah bahwa agenda luar negeri tersebut berjalan paralel dengan penguatan dalam negeri. Program di bidang pangan, pendidikan, koperasi, perumahan, dan intervensi terhadap kelompok rentan menunjukkan bahwa fondasi domestik tidak diabaikan.

Ini penting. Akses global tanpa kesiapan domestik hanya akan menjadi peluang yang terbuang.

Kritik terhadap kebijakan tentu sah dan diperlukan. Namun, kritik yang hanya berhenti pada menyalahkan tanpa menawarkan perspektif alternatif justru mereduksi kualitas demokrasi.

Lebih jauh, framing negatif yang terus-menerus terhadap Presiden Preabowo tanpa pengakuan saat terbukti keliru mencerminkan bias. Bukan objektivitas.

Bukan koreksi program. Akan tetapi proyek penjatuhan rezim.

Pada akhirnya, kepemimpinan harus dinilai secara utuh: visi, strategi, dan implementasi. Prabowo menawarkan kombinasi antara realisme geopolitik dan pembangunan domestik. Dalam dunia yang semakin kompetitif, pendekatan seperti inilah yang dibutuhkan.

Indonesia tidak memerlukan ilusi kekuatan, tetapi kepemimpinan yang memahami batas sekaligus peluang. Dan dalam kerangka itu, Prabowo Subianto adalah anugerah bagi Indonesia. Saat ini.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...