Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 18/03/2026
Sejarah wilayah yang kini dikenal sebagai Palestina merupakan kisah panjang tentang penaklukan, pengusiran, dan perubahan demografis.
Di tanah yang dahulu disebut Judea, narasi sejarah bangsa Yahudi dan masyarakat Palestina bertemu. Sering kali dalam ketegangan yang masih terasa hingga kini.
Pengusiran besar pertama bangsa Yahudi terjadi pada 586 SM ketika Neo-Babylonian Empire di bawah Nebuchadnezzar II menaklukkan Jerusalem. Bait Suci dihancurkan dan banyak penduduk Yahudi dipindahkan ke Babilonia dalam peristiwa yang dikenal sebagai Babylonian Captivity.Namun pengasingan itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Babilonia ditaklukkan oleh Cyrus the Great dari Achaemenid Empire, sebagian orang Yahudi diizinkan kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci.
Meski demikian, wilayah tersebut tidak pernah benar-benar kosong. Sebagian penduduk lokal tetap tinggal dan kelompok lain juga menetap. Sehingga sejak masa itu kawasan tersebut telah dihuni oleh masyarakat yang beragam.
Kisah pengusiran berikutnya terjadi pada masa Roman Empire. Setelah pemberontakan Yahudi melawan Romawi, Yerusalem dihancurkan kembali pada tahun 70 M dalam First Jewish–Roman War.
Kekalahan berikutnya dalam Bar Kokhba revolt (132–136 M) menyebabkan pengusiran besar orang Yahudi dari wilayah tersebut dan memperluas diaspora mereka ke berbagai penjuru dunia. Dalam periode ini, Romawi mengganti nama provinsi Judea menjadi Palestina. Istilah yang kemudian bertahan selama berabad-abad.
Sementara komunitas Yahudi tersebar di Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah, wilayah Palestina tetap dihuni oleh berbagai masyarakat lokal.
Setelah penaklukan oleh Rashidun Caliphate pada abad ke-7, mayoritas penduduk di kawasan itu berkembang menjadi masyarakat Arab berbahasa Arab dengan keragaman agama. Termasuk Islam dan Kristen.
Selama berabad-abad berikutnya wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan berbagai kerajaan. Hingga akhirnya diperintah oleh Ottoman Empire selama sekitar empat abad.
Perubahan besar terjadi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 ketika muncul gerakan Zionism, yang mendorong kembalinya orang Yahudi ke tanah leluhur mereka. Dukungan internasional terhadap gagasan ini semakin kuat setelah Balfour Declaration pada 1917.
Migrasi Yahudi ke wilayah Mandatory Palestine meningkat dan memicu ketegangan dengan masyarakat Arab lokal yang telah lama tinggal di sana. Mereka menolak gagasan bahwa wilayah tersebut dapat diklaim sebagai milik tunggal satu bangsa.
Puncak perubahan itu terjadi pada 1948 ketika negara Israel diproklamasikan oleh David Ben-Gurion. Bagi banyak orang Yahudi, peristiwa ini dipandang sebagai realisasi kembalinya sebuah bangsa setelah pengasingan panjang.
Namun bagi masyarakat Palestina, peristiwa yang sama berkaitan dengan pengungsian besar yang mereka sebut Nakba.
Dengan demikian, sejarah Palestina berada di tengah dua narasi besar. Ialah kisah pengusiran dan kembalinya bangsa Yahudi, serta kisah keberlanjutan kehidupan masyarakat Palestina di wilayah yang sama.
Karena wilayah itu sejak lama dihuni oleh lebih dari satu komunitas. Klaim kepemilikan tunggal sulit dipertahankan tanpa menyingkirkan yang lain.
Dalam konteks itulah gagasan Two-state solution—dua negara yang hidup berdampingan—dipandang sebagai jalan tengah paling rasional dan realistis. Sama-sama diberi jalan eksis. Tanpa saling menegasikan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.