Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 18/03/2026
Menjelang Idul Fitri, wajah kampung-kampung di Trenggalek berubah. Jalan yang biasanya gelap disulap menjadi lorong Cahaya.
Gapura sederhana menjelma instalasi artistik. Deretan oncor menghadirkan suasana hangat yang nyaris magis.
Tanpa komando besar, tanpa anggaran besar, warga bergerak sendiri. Berlomba dalam kreativitas yang tumbuh dari semangat kebersamaan.
Fenomena ini layak disebut sebagai “Kampung Tematik Lebaran”. Sebuah bentuk permak lingkungan berbasis warga yang menjadikan ruang sehari-hari sebagai pengalaman visual yang hidup.
Bukan sekadar hiasan. Melainkan ekspresi kolektif yang memadukan estetika, tradisi, dan rasa memiliki terhadap kampung.
Yang menarik, kreativitas ini lahir secara organik. Tidak ada standar baku, tidak ada desain tunggal.
Setiap gang memiliki ciri khas. Ada lorong lampu yang memukau di malam hari. Ada jalan penuh warna yang cerah di siang hari. Hingga instalasi alami dari janur dan hasil bumi.
Semua menjadi identitas yang membedakan satu kampung dengan kampung lainnya. Berpacu dengan reativitas masing-masing.
Di titik ini, peran pemerintah daerah menjadi penting. Bukan untuk mengatur secara kaku. Melainkan untuk memantik dan memperkuat.
Salah satu cara yang paling realistis adalah melalui skema penghargaan (awarding). Dengan hadiah yang wajar dan kategori yang beragam. Kreativitas warga yang selama ini sudah tumbuh akan terdorong lebih jauh.
Kompetisi ringan semacam ini bukan sekadar mencari yang terbaik. Tetapi memberi ruang apresiasi bagi semua.
Namun awarding saja tidak cukup. Perlu kemasan yang memperkuat dampaknya. Bisa dibuat “festival kampung tematik lebaran”.
Storytelling menjadi kunci. Setiap kampung didorong memiliki narasi. Misalnya “lorong seribu cahaya”. “Kampung seribu warna”. “Jalan oncor tradisional”.
Dari sekadar dekorasi, kampung berubah menjadi pengalaman yang bisa diceritakan ulang. Sebagai identitas yang tidak mati oleh waktu.
Di era digital, skenario viral juga tidak kalah penting. Dokumentasi sederhana, unggahan media sosial, hingga partisipasi warga dan pengunjung dalam berbagi konten. Cara itu akan memperluas jangkauan tanpa biaya besar.
Seperti yang terjadi pada Kampung Warna-Warni Jodipan di Malang. Kekuatan visual yang unik dapat dengan cepat menarik perhatian publik lebih luas.
Menariknya, semua ini tidak perlu mengganggu tradisi utama Lebaran. Arus kunjungan antarwarga sudah terbentuk secara alami melalui silaturahmi.
Kreativitas kampung justru menjadi “bonus pengalaman” yang memperkaya perjalanan tersebut. Sambil silaturahmi, menikmati kreativitas kampung tematik.
Pada akhirnya, Kampung Tematik Lebaran bukan sekadar perayaan sesaat. Ia adalah momentum. Bagaimana kreativitas warga yang sederhana dapat tumbuh menjadi identitas bersama. Sekaligus membuka peluang baru.
Jika dirawat dengan tepat, inisiatif ini bukan hanya memperindah kampung. Tetapi juga menjadi pintu masuk bagi berkembangnya daya tarik pariwisata berbasis komunitas.
Terutama bagi content cretor luar negeri yang ingin merasakan lebaran bersama.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com), Pemudik di Trenggalek.