Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 08/11/2025
Trenggalek, kabupaten di jantung pegunungan selatan Jawa Timur. Sering dipandang sebagai wilayah tenang dan terpencil. Enclave.
Namun jejak sejarah membuktikan kawasan ini berulang kali menjadi ruang pemulihan. Tempat kekuasaan Nusantara yang runtuh menata ulang dirinya. Merumuskan kembali strategi, dan kemudian bangkit dalam bentuk peradaban baru.
Tradisi lisan sebagian masyarakat menghubungkan nama Trenggalek dengan frasa “Terang ing Galih”. Terangnya hati, kejernihan batin. Meski secara etimologis istilah ini bersifat interpretative. Makna filosofisnya selaras dengan peran historis Trenggalek: laboratorium batin dan politik, tempat berbagai kekuatan Nusantara mengatur ulang kehidupannya.
Pertama, Prasasti Kampak (942 M): Pemulihan Pasca Pralaya Mataram Kuno.
Runtuhnya Mataram Kuno akibat bencana besar abad ke-10, dalam tradisi Jawa dikenal sebagai pralaya. Memaksa pusat kekuasaan berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Tokoh sentral masa transisi ini Mpu Sindok. Pendiri Dinasti Isyana.
Di tengah masa pelik, Prasasti Kampak Trenggalek (942 M) mencatat aktivitas administratif penting mengenai penetapan tanah sima. Prasasti menunjukkan Trenggalek bukan sekadar wilayah pinggiran. Melainkan bagian dari jaringan strategis pemulihan negara.
Perspektf geopolitik dan arkeologis, wilayah ini menawarkan: perlindungan alami dari pegunungan, ruang aman konsolidasi politik, komunitas agraris-spiritual yang stabil, serta lokasi relatif tersembunyi dari konflik pusat. Konsolidasi Mpu Sendok pada akhirnya melahirkan Kahuripan, “tempat kehidupan baru”. Bentuk kebangkitan kembali peradaban Nusantara setelah keruntuhan Mataram Kuno.
Kedua, Prasasti Kamulan (1115 M): Rehabilitasi Struktur Kadiri.
Memasuki abad ke-11 hingga ke-13, struktur politik Jawa Timur mengalami fluktuasi besar akibat perebutan kekuasaan antara Kadiri, Janggala, dan Singhasari. Prasasti Kamulan (1037 Saka / 1115 M), ditemukan di Trenggalek, mencatat pembaruan status sima. Ini menjadi bukti wilayah Trenggalek tetap berada dalam orbit administratif kerajaan besar Jawa Timur.
Ketika Singhasari dan Kadiri berebut dominasi, serta ketika kekuatan Mongol gagal menaklukkan pusat Jawa Timur (Kediri–Singhasari–Majapahit). Kita melihat kawasan ini berada di zona penyangga yang stabil. Trenggalek menjadi bagian dari ruang pendukung yang memungkinkan keberlangsungan dan reorganisasi kekuasaan besar Nusantara di masa transisi.
Ketiga, jejak pelarian Pakubuwono II (1742–1743) dan tradisi Sinongkelan
Abad ke-18, terjadi krisis besar dalam istana Mataram/Surakarta. Geger Pacinan (1740–1743). Ketika gabungan kelompok Tionghoa-Jawa memberontak melawan VOC dan penguasa Mataram. Pakubuwono II terdesak hebat hingga melarikan diri dari Kartasura menuju wilayah timur Jawa. Melintasi daerah selatan yang relatif aman dari konflik besar.
Catatan resmi tidak spesifik menyebut “Trenggalek” sebagai lokasi pelarian. Tradisi masyarakat menyimpan memori raja “diloloskan” dan diselamatkan. Raja yang melarikan diri karena kekuasaannya direbut ialah raja yang “tercongkel” atau “digusur”. Jejak memori kolektif ini hidup dalam tradisi Sinongkelan di Desa Prambon (Trenggalek-dekat Ponorogo). Ritual yang menggambarkan pencopotan, kejatuhan, dan penegakan kembali tatanan.
Tradisi budaya itu menjadi bukti bahwa masyarakat merawat pengalaman sejarah sebagai bagian dari identitasnya. Wilayah mereka pernah menjadi tempat pelarian, penyembuhan, dan konsolidasi kekuatan seorang raja besar Mataram.
Keempat, Jenderal Soedirman dan Dua Gelombang Konsolidasi Gerilya (1948–1949).
Pola sejarah berulang. Agresi Militer II, Jenderal Soedirman memimpin perjalanan gerilya legendaris dari Yogyakarta ke selatan. Dua kesempatan ia masuk ke wilayah Trenggalek melalui jalur pegunungan Dongko–Durenan–Pule.
Wilayah ini menjadi tempat pertemuan pasukan gerilya, titik reorientasi strategi, lokasi aman dari patroli Belanda, dan basis sosial rakyat yang mendukung perlawanan nasional. Dalam sejarah modern, Trenggalek kembali menegaskan posisinya sebagai ruang pemulihan kekuatan negara.
“Terang ing Galih” esensinya fungsi filosofis sebuah ruang pemulihan. Meski etimologi “Terang ing Galih” belum tentu berasal dari akar linguistik nama Trenggalek. Makna filosofisnya menggambarkan apa yang berkali-kali terjadi: ketika Mataram Kuno runtuh, ketika Kadiri diguncang, ketika Mataram Islam mengalami krisis, dan ketika Republik Indonesia bertahan melalui perang gerilya.
Trenggalek hadir sebagai ruang terang, tempat batin dijernihkan, strategi dirumuskan, dan kekuasaan dipulihkan. Ia bukan pusat hegemoni fisik, tetapi pusat pemulihan visi peradaban.
Benang merah memanjang lebih seribu tahun, Trenggalek telah menjadi semacam ruang liminal Nusantara. Bukan panggung perebutan kekuasaan, melainkan tempat kekuasaan yang rubuh menata diri untuk bangkit kembali.
Trenggalek layak disebut penyangga peradaban Nusantara. Bukan karena dominasi militernya, bukan karena luas wilayahnya. Melainkan karena kejernihan batin dan kekuatan sosial-kulturalnya yang berulang kali memulihkan bangsa ini.
- ARS – Jakarta (rohmanfth@gmail.com)