Ormas Islam Nusantara vs Transnasional

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 17/01/2026

 

 

Benturan Ormas Islam Nusantara dan Ormas Islam Transnasional tidak bisa dipahami semata sebagai persaingan tafsir atau metodologi keagamaan. Apalagi sekadar kontestasi ideologi.

NU, Muhammadiyah, Persis, dan organisasi lain yang lahir dari rahim Nusantara merupakan produk sejarah panjang masyarakat Indonesia yang sadar peradaban. Ialah kesadaran bahwa Nusantara/Indonesia adalah entitas peradaban independen yang telah berkembang ribuan tahun dan harus dijaga dari erosi pengaruh eksternal.

Pada sisiran masyarakat luas terus saja bergemuruh tentang kebangkitan peradaban Nusantara. Satu era yang diyakininya akan segera tiba.

Ormas Islam Nusantara berkembang beriringan dengan proses politik, budaya, dan struktur sosial. Terbentuk dari era kerajaan, perdagangan, pesantren, dan praktik lokal. Mereka tidak hanya menyampaikan nilai keagamaan. Tetapi juga menjadi jaringan sosial, ekonomi, pendidikan, dan politik yang menyatu dengan pengalaman kolektif bangsa.

NU dan Muhammadiyah masing-masing memiliki puluhan juta anggota. Menjadikannya ormas Islam terbesar dan terluas di dunia.

Peradaban Nusantara bukan sekadar adat atau budaya. Tetapi kerangka hidup kolektif di mana Islam dipraktikkan secara kontekstual. Ormas Islam Nusantara mengambil nilai universal Islam, seperti keadilan, kesetaraan, dan moralitas religius. Namun mengembangkan metode, struktur, dan praktik lokal yang sesuai konteks sosial-budaya Indonesia.

Pendekatan ini membuat umat tidak merasakan subordinasi dari kekuatan luar—misalnya Arab atau pusat gerakan global lain—. Karena penerapan Islam disesuaikan dengan kerangka lokal. Tidak berbenturn dengan spirit lokal.

Lihat juga...