Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 10/03/2026
Di berbagai konflik yang melibatkan masyarakat Muslim, narasi simbolik sering menjadi bahasa utama. Kisah heroik, kemenangan kecil yang dibesar-besarkan, dan retorika moral kerap mendominasi ruang publik.
Dalam jangka pendek, narasi ini memberi energi psikologis: membangun solidaritas, menjaga harapan, dan menguatkan identitas kolektif. Namun di era informasi terbuka, muncul pertanyaan penting: masih efektifkah strategi ini?.
Narasi simbolik bukan sesuatu yang sepenuhnya keliru. Dalam teori ilmu politik dan komunikasi, simbol memiliki peran penting dalam mobilisasi massa. Ilmuwan politik Benedict Anderson menjelaskan bahwa komunitas besar—seperti bangsa atau umat—sering terbentuk melalui konsep imagined community. Ialah kesatuan yang dibangun oleh simbol, cerita, dan imajinasi kolektif. Tanpa narasi semacam ini, sulit menciptakan solidaritas lintas wilayah dan budaya.
Contoh narasi simbolik terlihat jelas dalam konflik di Gaza Strip yang terkait dengan Konflik Israel–Palestina. Di ruang digital, berbagai akun dan media sering menonjolkan cerita keberhasilan kecil dari Hamas—misalnya keberhasilan serangan roket atau operasi taktis—sebagai simbol perlawanan yang dianggap mampu menandingi Israel.
Cerita seperti ini mudah menyebar karena membangun narasi heroik tentang ketahanan dan perlawanan. Apalagi dalam era AI, ilusi kemenangan perjuangan bisa dikemas seperti realitas. Realitanya Gaza menjadi abu. Luluh lantak.
Fenomena serupa juga terlihat dalam persepsi publik terhadap Iran. Di berbagai ruang diskusi, Iran sering digambarkan sebagai kekuatan yang mampu secara langsung menantang dominasi militer Barat atau Israel.
Narasi ini memberi rasa percaya diri bagi sebagian publik Muslim. Meskipun realitas geopolitik menunjukkan konflik modern jauh lebih kompleks. Melibatkan ketimpangan teknologi, ekonomi, serta aliansi global.
Namun masalah muncul ketika narasi simbolik berubah menjadi ilusi. Di era satelit, jurnalisme global, dan media sosial, realitas lapangan semakin transparan.
Jika narasi kemenangan tidak sesuai dengan fakta, publik cepat atau lambat akan menyadarinya. Ketika itu terjadi, dampaknya bisa berbahaya: hilangnya kepercayaan, demoralisasi masyarakat, bahkan kesalahan strategi.
Ilmuwan politik Robert Jervis dalam kajiannya tentang persepsi dalam hubungan internasional menunjukkan bahwa kesalahan membaca realitas sering membuat negara atau kelompok mengambil keputusan yang keliru. Ketika persepsi dibangun dari propaganda atau harapan emosional, bukan analisis objektif, strategi jangka panjang menjadi rapuh.
Narasi simbolik itu membiasakan ummat Islam dengaan ilusi. Dalam jangka panjang bisa mendorong pada naluri pengambilan keputusan yang keliru. Karena basis informasinya imajinatif. Bukan Realitas.
Karena itu, tantangan dunia Muslim hari ini bukan sekadar mempertahankan narasi simbolik. Tetapi menyeimbangkannya dengan realisme strategis.
Narasi tetap diperlukan untuk menjaga moral publik. Namun di tingkat kepemimpinan dan perencanaan, diperlukan analisis yang jujur tentang kekuatan, kelemahan, serta kondisi geopolitik.
Kemenangan nyata dalam dunia modern tidak hanya ditentukan oleh retorika atau simbol. Ia lahir dari kombinasi institusi yang kuat, kapasitas teknologi, kekuatan ekonomi, dan diplomasi yang cermat. Tanpa fondasi ini, narasi heroisme hanya menjadi penghiburan sementara.
Jalan yang lebih konstruktif bukan menghapus narasi simbolik, melainkan mentransformasikannya. Propaganda emosional perlu diarahkan menjadi simbol yang mendorong pembangunan nyata. Seperti pendidikan, riset ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta penguatan ekonomi.
Simbol tetap berfungsi menggerakkan emosi kolektif, tetapi tujuannya jelas. Ialah membangun kapasitas peradaban.
Dengan kata lain, dunia Muslim perlu bergerak dari sekadar “narasi kemenangan” menuju arsitektur kemenangan. Simbol boleh menggerakkan emosi, tetapi strategi harus berpijak pada realitas.
Hanya dengan keseimbangan antara moral dan rasionalitas, kemenangan yang dicapai tidak lagi bersifat simbolik. Melainkan nyata dan berkelanjutan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.