Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 18/4/2026
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow dan Paris berlangsung dalam waktu berdekatan. Paralel dengan kunjungan Menteri Pertahanan ke Amerika Serikat.
Pergerakan Presiden-Menhan itu menegaskan arah baru politik luar negeri Indonesia yang semakin terstruktur sebagai politik “multi-vektor”. Pendekatan ini memperluas prinsip bebas-aktif. Menjadi strategi aktif dalam mengelola hubungan simultan dengan kekuatan besar yang saling bersaing dalam tatanan global multipolar.
Di Rusia, pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin fokus pada kerja sama energi dan industri strategis. Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor energi yang tinggi.
Estimasinya 65–70% kebutuhan minyak mentah berasal dari impor. Sementara konsumsi energi final tumbuh sekitar 3–4% per tahun seiring pemulihan ekonomi pascapandemi.
Dalam konteks tersebut, pembahasan peningkatan pasokan minyak mentah dan LPG dari Rusia menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber energi. Rusia juga menawarkan kerja sama di sektor industri, pertanian, dan teknologi yang terkait agenda hilirisasi nasional.
Harga minyak Rusia dalam pasar global saat ini berada pada level menengah ke bawah. Dijual dengan diskon sekitar 10–20% dibandingkan harga acuan seperti Brent. Terutama akibat sanksi Barat yang membatasi akses pasar dan mekanisme perdagangan.
Bagi negara seperti Indonesia, kondisi ini membuka peluang memperoleh pasokan energi dengan harga relatif lebih murah. Meskipun tetap dalam skema bisnis komersial dan bukan perlakuan khusus.
Keuntungan harga tersebut tidak sepenuhnya bersih karena adanya tambahan biaya logistik, asuransi, serta risiko geopolitik dalam transaksi. Dengan demikian, minyak Rusia menjadi alternatif strategis.
Bukan yang termurah secara absolut, tetapi cukup kompetitif untuk membantu menekan biaya impor energi. Sekaligus memperluas diversifikasi sumber pasokan di tengah ketidakpastian pasar global.
Sementara di Prancis, Presiden Prabowo bertemu Emmanuel Macron untuk memperkuat kemitraan strategis di bidang pertahanan, energi terbarukan, dan investasi. Prancis merupakan mitra penting dalam modernisasi alutsista Indonesia. Termasuk kontrak pengadaan 42 jet tempur Rafale senilai sekitar US$8–9 miliar, serta rencana kerja sama kapal selam dan sistem radar.
Di sisi ekonomi, Uni Eropa menyumbang sekitar 8–10% dari total investasi asing langsung Indonesia. Nilai investasi Eropa terus meningkat di kisaran US$5–7 miliar per tahun. Terutama pada sektor energi bersih, transportasi, dan manufaktur bernilai tambah tinggi.
Dalam konteks paralel ini, kunjungan Menteri Pertahanan ke Amerika Serikat memiliki makna strategis yang tidak terpisahkan. AS tetap menjadi pilar utama arsitektur keamanan Indo-Pasifik dengan anggaran pertahanan lebih dari US$800 miliar per tahun dan jaringan aliansi global seperti QUAD dan AUKUS.
Kerja sama Indonesia–AS mencakup latihan militer bersama, modernisasi pertahanan, serta penguatan interoperabilitas sistem senjata. Kunjungan tersebut berfungsi sebagai upaya menjaga “anchor relationship” dengan Washington di bidang keamanan. Sekaligus meredam persepsi bahwa Indonesia sedang bergeser dari orbit strategis Barat akibat intensifikasi hubungan dengan Rusia.
Secara geopolitik, pola ini menunjukkan pembagian peran yang semakin jelas dalam diplomasi Indonesia. Presiden mengelola perluasan ruang ekonomi-politik melalui diversifikasi mitra global. sementara Menteri Pertahanan menjaga stabilitas hubungan keamanan dengan Amerika Serikat.
Ini mencerminkan strategi “dual-track hedging”. Memperluas opsi kerja sama tanpa mengganggu fondasi keamanan yang sudah ada.
Lebih jauh, langkah ini juga merupakan bentuk “signal management” dalam diplomasi internasional. Di tengah rivalitas Barat dan Rusia yang masih dipengaruhi perang Ukraina, Indonesia mengirim pesan bahwa keterlibatan dengan berbagai kutub kekuatan bukanlah bentuk keberpihakan. Melainkan upaya menjaga otonomi strategis.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam dinamika global. Tetapi mulai berperan sebagai middle power yang secara aktif mengelola keseimbangan kekuatan.
Politik luar negeri Indonesia kini bergerak lebih cair. Pragmatis, dan adaptif terhadap realitas dunia yang semakin multipolar dan kompetitif.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.