Afiliasi Negara-Negara ASEAN

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 02/04/2026

 

ASEAN hari ini bukan lagi sekadar organisasi regional yang homogen seperti pada era Orde Baru. Ketika Indonesia dipandang sebagai regional leader yang mampu menjaga kohesi kawasan.

Dalam lanskap geopolitik 2026, Asia Tenggara justru bergerak menuju pola baru. Multi-alignment yang cair, pragmatis, dan semakin terfragmentasi. Berada di bawah bayang-bayang kompetisi Amerika Serikat–Tiongkok.

Secara formal, ASEAN terdiri dari 10 negara anggota dengan populasi gabungan lebih dari 680 juta jiwa. PDB kolektif sekitar 3,8 triliun dolar AS.

Namun secara politik, kesatuan ini tidak lagi mencerminkan keseragaman orientasi luar negeri. Prinsip klasik “ASEAN Way”—non-intervensi, konsensus, dan netralitas—masih bertahan. Tetapi daya ikatnya melemah ketika kepentingan nasional semakin beragam.

Peta afiliasi kawasan menunjukkan polarisasi yang jelas. Filipina menjadi sekutu perjanjian pertahanan Amerika Serikat yang paling eksplisit di ASEAN, dengan akses militer dan kerja sama keamanan yang kuat.

Singapura juga mempertahankan hubungan strategis mendalam dengan Washington. Meski tetap menjaga hubungan ekonomi global secara seimbang.

Di sisi lain, Laos dan Kamboja semakin terkonsolidasi dalam orbit ekonomi Tiongkok melalui investasi infrastruktur dan ketergantungan pembiayaan. Myanmar, yang terisolasi akibat krisis politik domestik, juga cenderung bergeser ke arah Beijing dan Moskow.

Kondisi ini memperkuat pengaruh Tiongkok di daratan utama Asia Tenggara.

Vietnam berada dalam posisi unik. Secara historis waspada terhadap Tiongkok, tetapi tetap menjadi mitra dagang besar Beijing.

Hanoi menjalankan strategi “bamboo diplomacy”—lentur namun tegas—. Memperkuat kerja sama pertahanan terbatas dengan Amerika Serikat tanpa memutus hubungan ekonomi dengan Tiongkok.

Malaysia dan Indonesia memilih jalur yang lebih klasik. Non-blok aktif. Melalui strategi keseimbangan antara kekuatan besar.

Indonesia sendiri masih memegang posisi simbolik sebagai penjaga sentralitas ASEAN. Tetapi tidak lagi dominan seperti pada masa Orde Baru.

Pengaruhnya lebih bersifat normatif ketimbang koersif. Mendorong stabilitas kawasan, bukan mengendalikan arah politik regional.

Sementara itu, faktor eksternal semakin menentukan. Amerika Serikat memperkuat arsitektur Indo-Pasifik dan aliansi bilateral. Tiongkok memperluas Belt and Road Initiative. Jepang dan Korea Selatan menjadi kekuatan ekonomi teknologi. Australia memperdalam peran keamanan regional melalui AUKUS.

ASEAN menjadi arena kompetisi pengaruh. Bukan blok yang solid.

Dengan demikian, ASEAN saat ini dapat dipahami sebagai “jaringan keseimbangan” ketimbang organisasi dengan satu garis politik.

Tantangan terbesar ke depan bukanlah perpecahan formal. Melainkan kemampuan menjaga relevansi ASEAN di tengah fragmentasi afiliasi eksternal yang semakin dalam.

 

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...