Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 15/04/2026
Perdebatan tentang Palestina dan Yerusalem tidak hanya berlangsung di ruang diplomasi internasional. Tetapi juga di dalam lanskap kekristenan global.
Tiga arus besar—Katolik, Protestan arus utama, dan Evangelikal/Pentakosta—memiliki pendekatan berbeda dalam membaca konflik Israel–Palestina. Semuanya implikasi politik yang nyata.
Gereja Katolik, yang berpusat di Vatican City, secara konsisten mendorong solusi dua negara. Vatikan menekankan status khusus Jerusalem sebagai kota suci tiga agama dan menolak klaim eksklusif atasnya.
Sikap ini sering diartikulasikan oleh Paus Fransiskus, yang secara berulang menyerukan perlindungan warga sipil Palestina dan Israel serta akses kemanusiaan di Gaza. Dalam diplomasi Vatikan, tokoh seperti Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, menjadi figur kunci dalam menegaskan pendekatan hukum internasional dan perdamaian.
Berbeda dengan itu, Protestan arus utama di Eropa dan Amerika Utara lebih menekankan perspektif hak asasi manusia. Tokoh-tokoh seperti Desmond Tutu (Anglikan, Afrika Selatan) menjadi simbol moral kritik terhadap pendudukan wilayah Palestina. Meskipun ia telah wafat.
Di Amerika Serikat, pemimpin seperti Presiding Bishop Michael Curry (Episcopal Church) mewakili arus Protestan progresif yang menekankan rekonsiliasi, keadilan sosial, dan kritik terhadap kekerasan negara. Banyak gereja mainline juga mendukung advokasi bagi Palestina melalui lembaga ekumenis internasional.
Gereja mainline (mainline Protestant churches) adalah istilah untuk kelompok gereja Protestan arus utama. Secara historis berpengaruh besar di Eropa Barat dan Amerika Utara.
Sementara itu, arus Evangelikal dan Pentakosta—terutama di Amerika Serikat—menunjukkan spektrum paling politis dalam isu Israel. Tokoh seperti John Hagee (Christian Zionist) menjadi figur penting yang secara teologis mengaitkan dukungan kepada Israel dengan nubuatan Alkitab.
Di ranah politik, pengaruh ini terlihat pada kebijakan era Donald Trump. Khususnya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 2017. Didukung oleh tokoh seperti Mike Pence dan Mike Pompeo yang memiliki latar belakang Evangelikal konservatif.
Namun, di sisi lain, terdapat juga pemimpin Pentakosta global seperti David Oyedepo (Nigeria) yang lebih fokus pada teologi kemakmuran. Tidak selalu terlibat langsung dalam politik Israel–Palestina.
Data Pew Research Center menunjukkan dukungan Evangelikal kulit putih di AS terhadap Israel secara konsisten berada di atas 60%. Jauh lebih tinggi dibanding Protestan mainline yang lebih kritis atau terbagi.
Pada akhirnya, kekristenan global tidak dapat dipahami sebagai satu suara tunggal dalam isu Palestina. Ia adalah ekosistem ideologis yang saling bersilangan. Diplomasi Vatikan di bawah Paus Fransiskus, etika sosial Protestan yang diwarisi figur seperti Desmond Tutu, dan teologi politik Evangelikal yang dipengaruhi tokoh seperti John Hagee.
Dalam ruang inilah, Palestina dan Yerusalem menjadi bukan hanya wilayah sengketa geopolitik. Tetapi juga medan tafsir agama yang membentuk arah politik dunia.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.