Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 06/04/2026
Dunia Muslim kerap dipandang sebagai kekuatan besar yang belum sepenuhnya bangkit. Dengan populasi besar, sumber daya melimpah, dan warisan peradaban yang kuat, umat Islam sejatinya memiliki semua prasyarat untuk menjadi aktor utama global.
Namun realitas menunjukkan sebaliknya. Potensi besar itu masih terfragmentasi oleh konflik, ketimpangan, dan lemahnya integrasi.
Negara-negara Muslim memiliki keunggulan berbeda-beda. Arab Saudi dan Qatar menguasai energi dan modal finansial global. Turki menunjukkan kemajuan dalam industri dan teknologi pertahanan.
Sementara Malaysia relatif unggul dalam tata kelola dan keuangan syariah. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekuatan unik sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, pasar domestik luas, dan stabilitas sosial-politik yang relatif terjaga.
Namun potensi tidak otomatis menjadi kekuatan. Timur Tengah, misalnya, menghadapi tantangan konflik geopolitik dan rivalitas regional yang menghambat konsolidasi.
Negara lain seperti Pakistan dan Nigeria memiliki potensi besar, tetapi terkendala instabilitas internal dan persoalan tata kelola.
Bahkan negara dengan sumber daya besar pun kerap terjebak dalam ketergantungan komoditas dan belum mampu melakukan lompatan menuju ekonomi berbasis inovasi.
Iran menempati posisi sebagai kekuatan kemandirian strategis dunia Muslim. Unggul dalam teknologi dan ketahanan internal. Namun terbatas perannya sebagai game changer global. Iran memiliki hambatan isolasi dan minimnya integrasi.
Dalam konteks ini, pertanyaan kuncinya bukan lagi siapa yang paling kuat. Melainkan siapa paling siap menjadi game changer dalam arti strategis dan berkelanjutan.
Di sinilah relevansi Indonesia menjadi menonjol. Meskipun tidak memiliki kekuatan finansial seperti negara Teluk atau teknologi setara negara maju, Indonesia memiliki keunggulan yang sering diabaikan: stabilitas, moderasi, dan kapasitas kolaborasi.
Dalam dunia yang semakin terhubung, faktor-faktor ini justru menjadi fondasi penting bagi kepemimpinan peradaban. Selain itu, posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik memberikan nilai tambah geopolitik yang memungkinkan peran sebagai penghubung antara dunia Islam dan ekonomi global yang lebih luas.
Jika mampu mengelola potensinya secara optimal—terutama dalam pengembangan industri halal, ekonomi digital, dan penguatan sumber daya manusia—Indonesia berpeluang menjadi pusat gravitasi baru dunia Muslim.
Peran ini dapat diperkuat melalui kemitraan strategis: memanfaatkan modal dari Timur Tengah, teknologi dari Turki, serta sistem keuangan dari Malaysia. Integrasi ini tidak hanya memperkuat posisi ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi terbentuknya ekosistem peradaban yang saling menopang dan berkelanjutan.
Kebangkitan peradaban Islam di abad modern tampaknya tidak akan lahir dari satu negara superpower. Melainkan dari jaringan kolaborasi yang saling melengkapi.
Dalam konfigurasi ini, negara yang paling stabil dan inklusif memiliki peluang terbesar untuk memimpin arah. Bukan semata yang paling kaya atau paling kuat secara militer.
Dengan demikian, masa depan peradaban Islam tidak semata ditentukan oleh besarnya potensi. Tetapi oleh kemampuan mengelola perbedaan, membangun sinergi, dan menghadirkan kepemimpinan yang adaptif.
Dalam peta seperti ini, Indonesia berpeluang menjadi titik awal perubahan tersebut. Sekaligus katalis bagi lahirnya tatanan peradaban Islam yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing global.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.