Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 20/01/2026
Ketertinggalan dunia Islam dalam beberapa abad terakhir sering dipahami sebagai kegagalan peradaban secara total. Jika dianalisis secara lebih jernih, letak ketertinggalannya terutama pada penguasaan peradaban Teknik. Ialah teknologi industri, sains terapan, dan sistem produksi modern.
Generalisasi kemajuan peradaban dan kemajuan teknologi tidak hanya keliru secara konseptual. Tetapi juga menutup kemungkinan pembacaan strategis terhadap masa depan. Sejarah menunjukkan teknologi adalah sarana percepatan, bukan satu-satunya ukuran kematangan peradaban.
Posisi Muslim dalam peradaban teknik justru menyimpan potensi lompatan historis. Ia tidak harus mengulang seluruh tahapan yang pernah dilalui Barat.
Pada saat ini data statistik memang menunjukkan jurang nyata. Menurut UNESCO Institute for Statistics, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) rata-rata hanya mengalokasikan sekitar 0,3 hingga 0,5 persen PDB untuk riset dan pengembangan. Sementara rata-rata global berada di kisaran 2 persen. Negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman melampaui 3 persen.
Dampaknya pada kontribusi dunia Islam terhadap paten global. Masih di bawah 5 persen. Berdampak pula pada keterbatasan produksi teknologi bernilai tinggi. Data ini lebih tepat dibaca sebagai indikator keterlambatan struktural. Bukan ketidakmampuan peradaban Islam secara intrinsik.
Sejarah mendukung pembacaan ini. Dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban ilmu dan teknik tanpa harus melalui fase Renaisans seperti Eropa. Pada abad ke-9 hingga ke-13, umat Islam membangun tradisi ilmiah berbasis wahyu dan rasio sekaligus. Tanpa konflik antara agama dan sains.