Ramadhan: Ibadah Individual Energi Peradaban

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 20/02/2026

 

 

Ramadhan sering diposisikan sebagai ritual personal: relasi sunyi antara manusia dan Tuhan. Puasa dijalankan dalam disiplin batin, tersembunyi dari pengawasan publik.

Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ibadah yang personal menyimpan daya transformasi sosial. Ia bukan sekadar praktik spiritual, melainkan energi peradaban.

Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan untuk membentuk taqwa. Ialah kesadaran moral yang aktif. Individu tidak hanya di(ter)dorong tahu tentang kebaikan dan keburukan. Tetapi secara sengaja mengarahkan perilaku sehari-harinya sesuai dengan nilai moral dan prinsip hukum Allah Swt, tentang kebaikan. Puasa menjadi alat untuk melatih kesadaran tersebut

Secara teoritik, ini sejalan dengan gagasan sosiolog klasik Max Weber tentang ethic as social driver. Nilai keagamaan yang terinternalisasi dapat membentuk perilaku ekonomi, politik, dan sosial. Weber menunjukkan bagaimana etika religius mampu mendorong perubahan struktur masyarakat.

Dengan logika yang sama, puasa berpotensi melahirkan etos disiplin, kejujuran, dan pengendalian diri. Modal dasar bagi tata kelola yang bersih dan berkeadilan.

Ramadhan juga menciptakan apa yang oleh Emile Durkheim disebut sebagai solidaritas kolektif. Praktik bersama—tarawih, zakat, buka puasa—menghasilkan rasa kebersamaan dan identitas sosial yang kuat.

Solidaritas ini bukan simbolik. Ia berfungsi menjaga kohesi sosial, mengurangi ketegangan kelas, dan memperkuat kepercayaan publik. Peradaban yang stabil selalu bertumpu pada tingkat kepercayaan sosial yang tinggi.

Dari perspektif etika sosial Islam, puasa juga terhubung dengan distribusi keadilan. Momentum zakat dan sedekah memperkuat mekanisme redistribusi kekayaan.

Pada masa Rasulullah Muhammad Saw., dimensi spiritual dan sosial tidak terpisah. Ibadah mengalir ke tata kehidupan publik. Artinya, Ramadhan berfungsi sebagai siklus pembaruan moral tahunan yang menjaga kesehatan sosial masyarakat.

Lebih jauh, dalam konteks modern yang ditandai konsumerisme ekstrem, puasa menawarkan koreksi radikal. Ialah pembatasan diri.

Teori pembangunan berkelanjutan menekankan pentingnya kontrol atas hasrat eksploitasi sumber daya. Puasa melatih manusia untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebuah fondasi etis bagi peradaban yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Namun, energi itu hanya efektif bila terinternalisasi, bukan berhenti pada seremoni. Transformasi peradaban mensyaratkan kontinuitas nilai setelah Ramadhan usai.

Jika disiplin kembali longgar, empati memudar, dan integritas melemah, maka potensi peradaban itu menguap.

Ramadhan pada akhirnya adalah investasi moral kolektif. Ia bekerja dari dalam, membangun manusia sebelum membangun sistem.

Ketika jutaan individu mengalami reformasi batin secara serentak, yang terbentuk bukan sekadar kesalehan personal. Melainkan daya dorong sosial.

Di situlah Ramadhan menjadi lebih dari ibadah. Ia menjadi energi peradaban.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...