Makna Tradisi Menjelang Ramadhan di Indonesia

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/02/2026

 

 

Setiap menjelang Ramadhan, denyut kehidupan masyarakat Indonesia terasa berbeda. Di berbagai daerah, orang-orang berkumpul, membersihkan makam leluhur, mandi di sumber air, memasak dan berbagi makanan. Hingga saling bermaafan.

Sebagian melihatnya sebagai adat semata. Sebagian lain mempertanyakannya dari sisi syar’i.

Namun di balik perdebatan itu, ada satu hal yang sering luput. Tradisi-tradisi tersebut menyimpan makna persiapan batin yang mendalam.

Di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, masyarakat mengenal padusan. Mandi bersama sebelum Ramadhan. Di Sumatera Barat ada balimau. Secara lahiriah, ini tampak sebagai ritual membersihkan tubuh.

Namun secara simbolik, ia mengajarkan pentingnya penyucian diri sebelum memasuki bulan yang dimuliakan. Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Melainkan momentum tazkiyatun nafs. Pembersihan jiwa dari iri, dendam, dan kebiasaan buruk.

Tradisi saling bermaafan dan makan bersama seperti munggahan di Jawa Barat menegaskan dimensi sosial puasa. Ibadah tidak berdiri di ruang hampa. Puasa yang khusyuk sulit tumbuh dari hati yang dipenuhi konflik.

Dengan bermaafan, masyarakat seperti sedang “merapikan hati”. Agar ibadah tak tersandera persoalan lama. Ini bukan sekadar seremoni. Melainkan rekonsiliasi sosial sebelum memasuki latihan spiritual selama sebulan penuh.

Sementara itu, ziarah kubur yang lazim di berbagai daerah di Pulau Jawa mengandung pesan kontemplatif. Mengingat kematian menghadirkan kesadaran bahwa Ramadhan bisa jadi adalah yang terakhir.

Dari sini lahir keseriusan. Puasa tidak dijalani secara rutinitas belaka. Melainkan sebagai kesempatan memperbaiki diri sebelum waktu habis.

Di Aceh, tradisi meugang—memasak dan berbagi daging—. Menunjukkan bahwa menyambut Ramadhan juga berarti menguatkan solidaritas.

Sebelum merasakan lapar, masyarakat lebih dulu diajak berbagi. Ada pesan sosial yang kuat. Puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga menumbuhkan empati.

Tentu, tradisi tidak boleh melampaui batas akidah atau dianggap sebagai kewajiban agama. Ia bukan ibadah mahdhah yang berdiri sendiri. Namun sebagai wasilah—sarana menyiapkan mental dan spiritual—, tradisi memiliki fungsi penting.

Ia menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas budaya.

Pada akhirnya, tradisi menjelang Ramadhan di Indonesia bukan sekadar warisan turun-temurun. Ia adalah mekanisme sosial untuk menggeser suasana batin masyarakat. Dari biasa menjadi istimewa, dari lalai menjadi sadar, dari renggang menjadi saling menguatkan.

Di situlah maknanya. Tradisi-tradisi itu sebagai pintu masuk menuju Ramadhan. Sebuah pengkodisian  memasuki tempaan spiritual secara kolektif. Agar Ramadhan dijalani dengan lebih serius dan penuh kesadaran.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...