Ketika Produk Media Tidak Ada yang Membeli

(Refleksi Hari Pers 2026)

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 15/02/2026

 

 

Hari Pers 2026 datang dengan satu pertanyaan sunyi: bagaimana nasib sebuah industri ketika produknya tidak lagi dibeli?

Dulu, media hidup dari pelanggan. Orang membayar koran pagi-sore, karena informasi langka. Media memiliki kontrol atas distribusi dan menjadi pintu gerbang utama realitas. Iklan swasta dan pemerintah menopang. Tetapi pembaca tetap fondasi moral sekaligus ekonomi.

Hari ini situasinya berbeda. Informasi berlimpah, distribusi dikendalikan platform digital, publik terbiasa mengakses berita tanpa membayar. Produk utama media—informasi peristiwa—tidak lagi eksklusif. Video langsung dari lokasi, unggahan saksi mata, hingga rangkuman berbasis kecerdasan buatan membuat berita terasa gratis dan instan.

Ketika produk tidak lagi langka, nilainya turun.

Masalahnya bukan semata publik enggan membayar. Masalahnya, publik tidak lagi melihat diferensiasi. Jika media hanya menulis ulang rilis pers, merangkum kejadian, atau membingkai opini yang sudah ramai di media sosial, maka ia kehilangan alasan eksistensialnya.

Mengapa membayar sesuatu yang bisa diperoleh tanpa biaya?. Itu pertanyaan besarnya.

Di sisi lain, tekanan industri membuat redaksi terjebak pada logika trafik. Kecepatan mengalahkan kedalaman. Sensasi mengalahkan investigasi. Dalam kondisi ini, jurnalis perlahan berubah dari pencari fakta menjadi pekerja konten. Produk tetap ada, tetapi nilainya menurun.

Namun krisis ini bukan akhir. Ia adalah cermin.

Jika berita peristiwa telah menjadi komoditas gratis, maka media harus berhenti menjual komoditas. Nilai masa depan terletak pada hal yang tidak bisa diproduksi massal oleh algoritma: temuan asli, investigasi berbasis dokumen, peliputan lapangan yang berisiko, serta analisis yang lahir dari kerja panjang dan akuntabilitas.

Pers tidak akan bertahan dengan mengandalkan nostalgia model lama. Ia harus membangun kembali hubungan langsung dengan publik—bukan sebagai konsumen pasif. Tetapi sebagai komunitas yang memahami nilai kerja jurnalistik.

Kepercayaan dan keberanian mungkin menjadi mata uang yang lebih penting daripada klik dan tayangan.

Hari Pers 2026 seharusnya bukan sekadar perayaan. Melainkan momen kejujuran. Ketika produk media tidak ada yang membeli, mungkin yang perlu diubah bukan hanya strategi pemasaran. Tetapi definisi produknya sendiri.

Jika pers ingin tetap relevan, ia harus kembali pada satu hal mendasar: menghadirkan kebaruan yang bermakna bagi publik. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi gema dalam kebisingan.

 

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.