Trenggalek Penyangga Peradaban Nusantara

Keempat, Jenderal Soedirman dan Dua Gelombang Konsolidasi Gerilya (1948–1949).

Pola sejarah berulang. Agresi Militer II, Jenderal Soedirman memimpin perjalanan gerilya legendaris dari Yogyakarta ke selatan. Dua kesempatan ia masuk ke wilayah Trenggalek melalui jalur pegunungan Dongko–Durenan–Pule.

Wilayah ini menjadi tempat pertemuan pasukan gerilya, titik reorientasi strategi, lokasi aman dari patroli Belanda, dan basis sosial rakyat yang mendukung perlawanan nasional. Dalam sejarah modern, Trenggalek kembali menegaskan posisinya sebagai ruang pemulihan kekuatan negara.

Terang ing Galih” esensinya fungsi filosofis sebuah ruang pemulihan. Meski etimologi “Terang ing Galih” belum tentu berasal dari akar linguistik nama Trenggalek. Makna filosofisnya menggambarkan apa yang berkali-kali terjadi: ketika Mataram Kuno runtuh, ketika Kadiri diguncang, ketika Mataram Islam mengalami krisis, dan ketika Republik Indonesia bertahan melalui perang gerilya.

Trenggalek hadir sebagai ruang terang, tempat batin dijernihkan, strategi dirumuskan, dan kekuasaan dipulihkan. Ia bukan pusat hegemoni fisik, tetapi pusat pemulihan visi peradaban.

Benang merah memanjang lebih seribu tahun, Trenggalek telah menjadi semacam ruang liminal Nusantara. Bukan panggung perebutan kekuasaan, melainkan tempat kekuasaan yang rubuh menata diri untuk bangkit kembali.

Trenggalek layak disebut penyangga peradaban Nusantara. Bukan karena dominasi militernya, bukan karena luas wilayahnya. Melainkan karena kejernihan batin dan kekuatan sosial-kulturalnya yang berulang kali memulihkan bangsa ini.

 

Lihat juga...