Trenggalek Penyangga Peradaban Nusantara

Kedua, Prasasti Kamulan (1115 M): Rehabilitasi Struktur Kadiri.

Memasuki abad ke-11 hingga ke-13, struktur politik Jawa Timur mengalami fluktuasi besar akibat perebutan kekuasaan antara Kadiri, Janggala, dan Singhasari. Prasasti Kamulan (1037 Saka / 1115 M), ditemukan di Trenggalek, mencatat pembaruan status sima. Ini menjadi bukti wilayah Trenggalek tetap berada dalam orbit administratif kerajaan besar Jawa Timur.

Ketika Singhasari dan Kadiri berebut dominasi, serta ketika kekuatan Mongol gagal menaklukkan pusat Jawa Timur (Kediri–Singhasari–Majapahit). Kita melihat kawasan ini berada di zona penyangga yang stabil. Trenggalek menjadi bagian dari ruang pendukung yang memungkinkan keberlangsungan dan reorganisasi kekuasaan besar Nusantara di masa transisi.

Ketiga, jejak pelarian Pakubuwono II (1742–1743) dan tradisi Sinongkelan

Abad ke-18, terjadi krisis besar dalam istana Mataram/Surakarta. Geger Pacinan (1740–1743). Ketika gabungan kelompok Tionghoa-Jawa memberontak melawan VOC dan penguasa Mataram. Pakubuwono II terdesak hebat hingga melarikan diri dari Kartasura menuju wilayah timur Jawa. Melintasi daerah selatan yang relatif aman dari konflik besar.

Catatan resmi tidak spesifik menyebut “Trenggalek” sebagai lokasi pelarian. Tradisi masyarakat menyimpan memori raja “diloloskan” dan diselamatkan. Raja yang melarikan diri karena kekuasaannya direbut ialah raja yang “tercongkel” atau “digusur”. Jejak memori kolektif ini hidup dalam tradisi Sinongkelan di Desa Prambon (Trenggalek-dekat Ponorogo). Ritual yang menggambarkan pencopotan, kejatuhan, dan penegakan kembali tatanan.

Tradisi budaya itu menjadi bukti bahwa masyarakat merawat pengalaman sejarah sebagai bagian dari identitasnya. Wilayah mereka pernah menjadi tempat pelarian, penyembuhan, dan konsolidasi kekuatan seorang raja besar Mataram.

Lihat juga...