Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 07/11/2025
Jasa Presiden Soeharto terbentuk melalui bentangan pengalaman panjang. Sebagai prajurit, pemimpin lapangan, hingga figur politik yang menavigasi Indonesia melewati perang dingin dan masa pembangunan.
Pertama, mencegah kudeta 3 Juli 1946. Kelompok Tan Malaka dan sayap militernya, Mayor Soedarsono (Panglima Divisi III Yogyakarta-Panglima Letkol Soeharto), mencoba kudeta. Letkol Soeharto (Komandan Brigade IX Yogyakarta) sebagai pemegang kendali pasukan terkuat, mengkonsinyir pasukan. Militer tidak bisa digerakkan turut kudeta. Presiden Soekarno beserta ajudan kepresidenan dengan mudah membekuk Mayor Soedarsono.
Jika kudeta berhasil, kelangsungan pemerintahan Presiden Soekarno terputus. Republik kehilangan stabilitas pada masa sangat awal. Benedict Anderson menyebut: keputusan perwira-perwira seperti Soeharto menjaga “legitimasi negara muda” pada masa rawan. Ia menilai langkah Soeharto sebagai bagian dari konsistensi komando yang mencegah republik terfragmentasi pada tahun-tahun awal.
Kedua, serangan Umum 1 Maret 1949: politik melalui senjata. Sebagai Komandan Wehrkreise III, Letkol Soeharto merupakan perencana, mobilisator dan pimpinan Serangan Umum 1 Maret 1949. M.C. Ricklefs dan Brian May menyebut Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai “prestasi psikologis strategis” yang memperkuat klaim kedaulatan Indonesia di mata dunia.
Ketiga, meredam pemberontakan dan menjaga keutuhan negara. Dekade 1950-an, Indonesia dihadapkan berbagai pemberontakan daerah. DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, dan gerakan separatis lain. Letkol Soeharto, melalui berbagai operasi militer, turut berperan menjaga kesatuan wilayah dan mencegah negara muda ini terpecah seperti beberapa negara pasca-kolonial lain.
Orde Lama yang tidak stabil membentuk cara pandangnya tentang pentingnya stabilitas dan kontrol terpusat. Harold Crouch menilai keberhasilan mempertahankan integritas wilayah merupakan fondasi utama Orde Baru. Tanpa stabilitas geografis, pembangunan tidak mungkin dilakukan skala nasional.
Keempat, operasi Mandala pembebasan Irian Barat: diplomasi dan kekuatan militer. Dipercaya sebagai Panglima Komando Mandala, Mayjen Soeharto memimpin tiga matra pasukan. Merevisi kegagalan operasi Trikora awal, termasuk gugurnya Komodor Yos Sudarso. Richard Chauvel mencatat kesiapan militer Indonesia yang dipimpin Soeharto menjadi faktor kunci. Membuat AS menekan Belanda agar bersedia berunding.
Kelima, G30S/PKI 1965 dan transisi kekuasaan. Krisis 1965 menjadi salah satu titik balik terbesar Indonesia. Mayjen Soeharto muncul sebagai figur kunci penyelamat negara. Berhasil mencegah Indonesia mengalami pembelahan seerti Jerman atau Korea. Guy Pauker menyebut transisi kekuasaan 1965–1967 sebagai “salah satu konsolidasi negara paling signifikan di Asia”. Stabilitas ini membuka kembali akses Indonesia pada IMF, Bank Dunia, dan bantuan pembangunan global.
Keenam, peletak fondasi pembangunan nasional: dari krisis ke pertumbuhan. Ketika Soeharto resmi menjadi pejabat presiden pada 1967, ekonomian Indonesia dalam kondisi sangat buruk. Inflasi mencapai lebih dari 650%, cadangan devisa minim, infrastruktur rusak dan pelayanan publik terbatas. Melalui kebijakan pembangunan terencana, Indonesia memasuki era industrialisasi awal.
Anne Booth menilai penurunan kemiskinan dari ±70% (1967) menjadi ±15% (1996) sebagai “keajaiban pembangunan”. Hal Hill menyebut Indonesia sebagai salah satu negara berkembang “paling stabil secara makro” selama tiga dekade. Richard Robison menegaskan modernisasi ekonomi Indonesia salah satu paling cepat di Asia.
Ketujuh, peran regional: membangun ASEAN sebagai pilar stabilitas. Donald Weatherbee menyebut Soeharto sebagai “arsitek sunyi stabilitas ASEAN”. Michael Leifer menilai ASEAN berkembang menjadi kawasan paling stabil di Asia karena peran Indonesia menjaga keseimbangan kekuatan.
Kedelapan, menavigasi Indonesia di tengah Perang Dingin. Indonesia berada dalam pusaran tarik-menarik dua blok superpower. Soeharto menjaga Indonesia tetap di jalur non-blok pragmatis. George McT. Kahin menilai kebijakan luar negeri Soeharto membawa Indonesia kembali menjadi pemain global yang diperhitungkan. Bukan zona konflik ideologis.
Kesembilan, transformasi sosial-ekonomi dari negara miskin ke negara berkembang. Dalam tiga dekade, indikator kemiskinan Indonesia menurun drastis. Akses pendidikan meningkat, angka harapan hidup naik. Indonesia memasuki era modernisasi. World Bank (1993) memasukkan Indonesia sebagai high-growth economy. WHO mencatat penurunan angka kematian bayi dari 145/1000 (1967) menjadi 46/1000 (1996). UNESCO mencatat penurunan buta huruf dari 60% menjadi sekitar 15%.
Kesepuluh, keberhasilan program keluarga berencana (KB) diakui dunia. Total Fertility Rate (TFR) turun dari 5,6 (1971) menjadi 2,7 (1996). Soeharto menerima UN Population Award (1989). UNFPA menyebut KB Indonesia sebagai salah satu paling sukses di negara berkembang.
Kesebelas, keamanan pangan dan penurunan malnutrisi. FAO menyebut Indonesia “model perencanaan ketahanan pangan” untuk negara berkembang pada 1980-an. Keduabelas, pendidikan massal terbesar di Asia Tenggara. Program Inpres meningkatkan akses sekolah dasar hingga 6 juta lebih murid baru. Martin Wedel (Harvard) menyebutnya sebagai “gerakan literasi terbesar di Asia Tenggara”. Ketigabelas, transisi demografi cepat. Gavin W. Jones mencatat Indonesia mengalami perubahan demografi paling cepat di Asia Tenggara—munculnya bonus demografi dan ledakan kelas menengah.
Keempatbelas, pembangunan desa dan penurunan kemiskinan pedesaan. UNDP memuji Inpres Desa sebagai bentuk pemerataan pembangunan paling signifikan di Asia. David Henley menyebutnya “rural development miracle”. Kelimabelas, modernisasi pertahanan dan industri strategis. Jane’s Defence Review (Inggris) menyebut Indonesia negara dengan ambisi industri pertahanan terbesar di Asia Tenggara pada 1990-an.
Menilai Presiden Soeharto hanya dari satu sisi—baik pujian total maupun kritik mutlak—tidak cukup untuk memahami sejarah Indonesia secara utuh. Ia figur yang hidup pada masa penuh gejolak. Mengambil keputusan besar dan membentuk arah negara. Mencegah kudeta, memimpin operasi militer strategis, menghadapi perang dingin, hingga membangun fondasi ekonomi nasional. Peran Soeharto tidak bisa dilepas dari perjalanan Indonesia menuju negara modern.
Memahami jasanya bukan berarti mengabaikan kontroversi pemerintahannya. Melainkan sebuah upaya membangun kesadaran sejarah yang proporsional: bahwa bangsa ini berdiri dari rangkaian keberhasilan, kegagalan, keputusan tepat, dan kesalahan manusiawi para pemimpinnya.
- ARS – Jakarta (rohmanfth@gmail.com)