Jyoti Nooran Penyanyi Sufi dari Lembah Hindustan

Oleh: T. Taufiqulhadi (Anggota DPR RI Periode 2014-2019)

 

Ekspresif, penuh energi, disertai dengan warna  vokal yang indah, Jyoti Nooran meraung seraya menggerak-gerakkan badan dan tangannya, yang membuat ratusan mata yang hadir terpana dan kemudian ikut larut dalam nyanyi sufi yang diketengahkan perempuan berusia 31 tahun itu.

Jyoti bersama kakaknya Sultana, yang dikenal sebagai Nooran Sisters, yang di atas panggung,  ada kalanya berekspresi seperti orang kesurupan yang membuat penonton  kaget – mungkin sekedar menghibur para fannya. Makanya semua tertawa.

Tapi orang tahu belaka  jika Jyoti ini memang  memiliki memiliki gaya panggung tersendiri yang unik. Tapi ia tetap memikat karena  daya jangkau vokalnya yang luas dan dahsyat.

Benar saja, setelah gaya “kejutan” dan “terkejut” itu, ia pun masuk ke alunan suara ritmik yang indah dan meliuk-liuk untuk menyampaikan puji-pujian kepada Allah, Nabi atau tokoh sufi idola para penyanyi sufi ini. Paling terkenal di antaranya adalah lagu “Ali Ali” dan  “Ya Nabi Salamu Alayka”, yang dibawakannya dengan penuh emosi dan sangat bertenaga.

Ya Nabi Salamu Alayka” adalah  salawat kepada Nabi dalam irama indah dengan Teknik vokal yang tinggi. Sementara “Ali Ali” berbicara tentang hubungan spiritual dengan Tuhan, yang menggambarkan Tuhan sebagai penjaga dan melindungi umat manusia.

Ali di sini merujuk kepada sepupu sang Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib. Sang Imam. Ali digunakan sebagai simbol kekuatan spiritual, keberanian, ketaqwaannya kepada Tuhan. Seperti lagu-lagu lain, lagu ini juga mengandung unsur-unsur sufi dan menggambarkan hubungan spiritual dengan Tuhan.

Lagu seperti “Ali Ali” dan “Ya Nabi Salamu Alayka” mungkin akan menjadi biasa bila dinyanyikan oleh orang lain tapi melalui mulut perempuan bermata tajam ini menjadi sangat  lain. Hal ini karena  selain ia nyanyikan dengan emosi penuh, juga didukung vokalnya yang indah dan menggetarkan.

Dua bersaudara yang berasal dari Punjab ini memang, seperti kata ayahnya, Gulshan Meer, sangat berbakat dengan nyanyi sufi. Gulshan Meer seorang musisi sufi yang terkenal, dan dialah yang mengajar Jyoti dan Sultana musik sufi sejak dini.

Nyanyi sufi atau musik sufi yang ditekuni oleh Nooran bersaudara ini disebut juga musik Qawwali, jenis musik yang sangat dipengaruhi oleh kultur Persia-Urdu.

Musik Qawwali adalah genre  musik devotional sufi yang berasal dari Asia selatan, terutama di India dan Pakistan. Qawwali bentuk musik yang digunakan untuk mengungkap perasaan cinta dan kesetiaan kepada Allah, Nabi Muhammad dan para sufi.  Ciri khas musik ini adalah campuran antara musik klasik India dan Timur Tengah, dengan skala improvisasi musik yang sangat kompleks. Instrument utama yang menjadi cirinya adalah harmonium, tabla, kadang kala ada biola dan gitar.

Nah, yang paling penting dalam genre musik ini adalah vokalnya. Vokal penyanyi qawwali harus sangat ekspresif dan emosional. Itu dikehendaki disebabkan  penyanyinya sering menggunakan teknik vokal yang komplek dan dengan improvisasi tak terduga.

Legenda dalam genre musik qawwali ini adalah Nusrat Fateh Ali Khan dan Sabri Bersaudara. Nusrat ini malang melintang di seluruh Asia Selatan dan bahkan sampai  Amerika dan Eropa. Nusrat yang lahir dalam kultur Punjab Pakistan pada 1948, pernah berkolaborasi dengan Peter Gabriel, sang dedengkot grup rock progresif legendaris asal Inggris, Genesis.

 

Dalam Kultur Persia-Urdu

Sementara yang disebut Kultur Persia-Urdu adalah sebuah kultur perpaduan budaya antara budaya Persia (Iran) dan Urdu (Pakistan/India). Kultur ini berkembang di wilayah Asia Selatan, terutama di Pakistan dan India, sebagai hasil dari pengaruh Islam dan kekuasaan Mughal yang pernah berkuasa di wilayah tersebut.

Tercatat dalam kultur inilah penyair dan filosof besar Mohammad Iqbal lahir. Walau bermukim di Lahore, Iqbal menulis puisi dalam bahasa Persia. Jadi Iqbal sangat ekspresif dan artikulatif dengan bahasa Persia.

Kini juga jika kita amati ada sejumlah film India berbahasa Urdu terlihat ada keterangan dalam tulisan Arab. Sebenarnya itu bukan bahasa Arab tapi itu bahasa Persia dengan tulisan Persia-Arab (huruf Persia-Arab ada tambahan huruf “P” dan “Ny”).

Sufisme tidak terlalu dekat kultur padang pasir. Jadi sufisme Islam atau tasawuf berkembang pesat setelah Islam bertemu dengan kultur Persia. Kultur Persia memberi  sumbangan besar sekali kepada (peradaban) Islam sehingga menjadikan wajah Islam menjadi wajah yang lebih lembut dan lebih kaya. Sumbangan itu terjadi terutama dalam bidang kesenian, literatur dan arsitekstur.

Memang sufisme bukanlah gejala kultur Persia secara eksklusif. Sufisme adalah sebuah tradisi spiritualitas yang universal dan dapat ditemukan dalam berbagai budaya dan tradisi Islam. Bahkan dalam agama Yahudi dan Kristen dapat ditemukan dengan mudah konsep dan praktek sufiisme.

Tapi dalam konteks tradisi islam, hampir semua sufi terkenal menulis dalam bahasa Persia, seperti Rumi dan Hafez. Sang matematikawan besar sejaman Al-Ghazali, Omar Khayyam, menulis dalam bahasa Persia. Khayyam, meski dikenal sebagai matematikawan dan filosof, juga dianggap sebagai seorang sufi  karena hampir semua rubaiyatnya berbau mistikal dan spiritual.

Nyanyi sufi yang dilakoni Jyoti Nooran inipun berkembang dalam tradisi ini, walau ia berasal dari kultur Punjab India. Tapi  lagu-lagunya yang menggema bebas ke udara itu ia ekspresikan melalui musik qawwali, yang sangat dipengaruhi kultur Persia-Urdu.

Dalam nyanyi sufi ini, antara penonton dan penyanyinya menyatu dalam satu tradisi, yaitu tradisi sufi. Salah satu bentuk tradisi itu, misalnya salah satu penonton bangkit dan manabur uang dalam jumlah besar kehadapan penyanyi, termasuk Jyoti. Padahal  Jyoti sendiri cukup makmur karena popularitasnya yang tinggi di Asia Selatan.

Ia mendapatkan pemasukan dari konser dan pertunjukkan, penjualan album musik, kolabrorasi musik dengan musisi lainnya. Kemudian ia mendapatkan uang  dari iklan dan endorsemen karena menjadi duta produk-produk tertentu. Jyoti pernah menjadi duta minuman “Coke”, serta sponsor lainnya.

Tapi dalam setiap pertunjukan atau konsernya akan selalu ada orang yang menabur uang ke atas di depan Jyoti kemudian jatuh berserakan ke sana kemari. Nanti seseorang akan memungut dan menyerahkankan kepada Jyoti.

Dalam pertunjukan seni sufi qawwali ini, melemaparkan uang ke atas itu bukan bentuk pamer kekayaan. Tapi itu bentuk penghargaan, kebahagian dan doa pemilik uang itu kepada penyanyi. Ia ingin menunjukkan penghargaan dan rasa hormat kepada penyanyi. Ia Bahagia dan kebahagiannya ingin ia bagi dengan sang penyanyi itu, Jyoti.

Semua komunitas  penggemar nyanyi sufi percaya, menabur uang seperti itu akan membawa berkah dan doa yang baik kepada penyanyi dan dia sendiri. Praktek ini tidaklah baru dan ekslusif di India dan Pakistan tapi itu praktek dalam tradisi sufi yang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.

 

Allah hoo

Lagu berbahasa Punjab Ishaq app Kihrha Changa mungkin bisa menjadi perkenalan yang baik kepada Jyoti dan kepada genre musik ini. Ishaq app kihrha changa sebuah lagu sufi paling popular, yang artinya “apa kabarmu, sayang”. Lagu ini berbicara tentang cinta kepada Tuhan, kerinduan, dan spiritualitas.

Saya sendiri sangat menikmati lagu “Allah Hoo” (Allahu), yang liriknya antara lain:

 

Orang-orang menyarankan kepada Bhulle Shah

Ayo masuk ke rumah ibadah

Orang-orang menyarankan kepada Bhulle Shah

Ayo bergabunglah dengan kami di rumah ibadah

 

Namun anda gagal karena menyerah kepada sesuatu yang diperhitungkan oleh para penyembah dunia materi

 

Di sini ada Allah, ada Allah

Tidak ada jalan keluar dari kerajaan Tuhan

Allah ada di mana-mana

Tidak ada jalan keluar dari kerajaan Tuhan

 

Allahu da awaaza aave

Yang dipenuhi di gubuk melantunkan himne dalam pujian-Nya

Allahu Da Awaaza Aave

Yang dipenuhi di gubuk melantunkan himne dalam pujian-Nya

(Terus diulang berkali-kali dengan berpusat pada frasa Allah hoo)

Lagu ini diawali dengan suara rendah, seperti menuturkan maksud cerita dalam lagu ini, tapi ulang berkali-kali. Mirip penyanyi rap, Jyoti bertutur  lagi dengan didukung dengungan harmonium. Tapi makin lama suaranya makin tinggi dan kemudian vokalnya yang berjenis mezzo-supran ini  meluap dalam emosi yang tak tertahankan  dan kemudian  melengking  dalam bait “Allah hoo Da Awaaza AAve, Kulli ni fakir di vicho” (suara sang Allah berasal dari  gubuk orang fakir). Tanpa jeda, tubuh dan tangannya terus bergerak penuh energi, dan kemudian berhenti pada titik paling klimak.

Begitu berhenti, Jyoti mengatur napas kembali, sementara penonton yang juga duduk bersila mulai sadar kembali dari suatu situasi yang nyaris ekstatis. Kebanyakan mereka  masih berbekas air mata dan telapak tangan tetap menempel di dada mereka masing-masing. ****

Lihat juga...