Tanah Kehidupan, Pameran Fotografi dari Papua

Di tengah hiruk-pikuk gambar digital yang brutal dan tanpa estetis, pameran fotografi “Tanah Kehidupan” hadir sebagai sebuah refleksi dan antitesa.

Pameran ini menampilkan 56 foto estetik karya kolaborasi antara Deta Widyananda, Mauren Fitri, dan Rifqy Faiza Rahman, yang menggambarkan keindahan dan kehidupan di tanah pelosok Papua.

Dr. Aguk Irawan MN (kanan) dan salah seorang fotografer. Foto: Istimewa

Pameran ini dibuka di Rumah Budaya Karangnoko, Yogyakarta, dan akan berlangsung selama sebulan penuh, mulai dari tanggal 5 November hingga 5 Desember.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat menyaksikan keindahan alam Papua, kehidupan masyarakat, dan budaya yang kaya, yang diabadikan melalui lensa kamera para fotografer.

“Tanah Kehidupan” bukan hanya sebuah pameran fotografi, tetapi juga sebuah pernyataan tentang pentingnya estetis dan keindahan dalam dunia digital yang serba cepat dan brutal.

Pameran ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, merefleksikan, dan mengapresiasi keindahan yang ada di sekitar kita.

Ketika berbincang dengan Rifky Faiza, salah satu fotografer yang terlibat dalam pameran ini, mengatakan bahwa “Tanah Kehidupan” adalah sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa Papua bukan hanya tentang konflik dan kekerasan, tetapi juga tentang keindahan dan kehidupan yang harmoni.

Pameran ini juga menampilkan gaya reflektif jurnalisme fotografi dengan narasi sastrawi. Narasi ini dijumpai di setiap foto yang ditampilkan dengan bahasa yang indah, penuh kepekaan dan empati.

“Tanah Kehidupan” adalah sebuah pameran yang mungkin perlu dilihat sekaligus diapresiasi, terutama di tengah hiruk-pikuk gambar digital yang brutal dan tanpa batas.

Apalagi pameran fotografi nyaris tak terdengar setelah hadirnya era digital.

Pameran ini mengajak kita untuk merefleksikan dan mengapresiasi keindahan yang ada di sekitar kita, dan menunjukkan bahwa kehidupan di Papua adalah sebuah keindahan yang patut dihargai. ***

Lihat juga...