Jangan Biarkan Anak Lapar Pengetahuan: Merawat Pendidikan 11 Anak Yatim Duafa

Reportase Jurnalistik

Oleh Muhammad Makrus Sahlan

 

SIDOARJO — Pendidikan nonformal menjadi salah satu ruang penting dalam membantu anak-anak mendapatkan pendampingan belajar sekaligus penguatan karakter. Semangat tersebut dijalankan oleh lembaga pendidikan nonformal yang dipimpin Moch. Erick Mustanto dengan memberikan pendampingan kepada 11 anak yatim duafa.

Lembaga tersebut hadir secara independen dengan perhatian pada pendidikan nonformal dan pembentukan karakter anak. Selain mendukung proses belajar, kegiatan yang dilakukan juga diarahkan untuk menanamkan nilai keagamaan dan kepedulian sosial.

“Menjadi lembaga yang independen ikut berperan dalam dunia pendidikan nonformal dan membentuk anak didik yang mempunyai karakter dan beradab yang mulia,” ujar Erick, Kamis (30/7/2026).

Program pembelajaran matematika, mengaji, serta kegiatan santunan. Foto: Istimewa

 

Saat ini, sebanyak 11 anak yatim duafa mengikuti kegiatan pendampingan. Program yang diberikan meliputi pembelajaran matematika, mengaji, serta kegiatan santunan.

Menurut Erick, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya lembaganya untuk ikut mengambil peran dalam dunia pendidikan, terutama dengan memberikan ruang pendampingan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.

Tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, kegiatan juga diarahkan untuk membangun karakter dan nilai keagamaan. Pendidikan dipandang sebagai proses yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitarnya.

Erick menilai bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada anak-anak akan memberikan dampak yang lebih luas pada masa mendatang.

“Barang siapa yang menanam kebaikan pasti akan menuai hasil di kemudian hari. Menjadi insan yang bermanfaat juga menjadi kepuasan tersendiri,” katanya.

Founder Jelajah Selindu, Moh Makrus Sahlan, mengatakan pendidikan dan literasi perlu dilihat secara lebih utuh. Menurutnya, kemampuan anak untuk belajar juga berkaitan erat dengan kondisi kehidupan, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar.

“Ilmu pengetahuan harus terjaga meskipun perut kosong. Tetapi kalimat tersebut bukan berarti membenarkan anak berada dalam kondisi lapar. Justru sebaliknya, ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus berjalan bersama kepedulian terhadap kebutuhan dasar anak,” ujar Makrus.

Ia menambahkan, gerakan literasi tidak cukup hanya mengajak anak membaca buku. Masyarakat juga perlu belajar membaca persoalan yang dihadapi anak-anak di sekitarnya.

“Literasi juga berarti membaca keadaan. Ketika ada anak yang kesulitan belajar, kita perlu melihat lebih jauh apa yang menjadi penyebabnya. Apakah karena lingkungan, kondisi keluarga, kebutuhan gizi, atau faktor lainnya,” jelasnya.

Karena itu, menurut Makrus, kegiatan pembelajaran, mengaji dan santunan yang diberikan kepada anak yatim duafa memiliki keterkaitan yang erat. Pendidikan memberikan pengetahuan, pendampingan membangun karakter, sedangkan kepedulian sosial membantu memastikan anak tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan belajar.

Selain penguatan pengetahuan dan karakter, Makrus menekankan pentingnya membangun kebiasaan berdoa sebelum memulai aktivitas.

“Awali aktivitas apa pun dengan berdoa. Berdoa adalah cahaya yang menerangi ilmu pengetahuan. Dengan begitu, apa yang dipelajari tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi diharapkan dapat membentuk karakter dan mendorong anak untuk mengamalkan kebaikan,” tuturnya.

Menurutnya, tantangan pendidikan anak pada masa depan semakin kompleks. Kemajuan teknologi memberikan akses informasi yang semakin luas, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Hal tersebut sejalan dengan harapan Erick agar lembaganya dapat terus memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Semakin bermanfaat di tengah-tengah masyarakat dengan perkembangan yang semakin canggih dan tantangan yang berat di masa depan,” harap Erick.

Pendampingan terhadap 11 anak yatim duafa tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan, literasi, keagamaan dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang diperoleh anak, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan di sekitarnya memastikan mereka memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh, berkarakter, dan mempersiapkan masa depan.

Lihat juga...