Anambas Blue Frontier

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 15/01/2026

 

 

Kepulauan Anambas terletak jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun ia justru berada di salah satu ruang paling strategis abad ke-21: Laut Cina Selatan.

Selama ini, Anambas sering dipandang semata sebagai wilayah terpencil yang perlu “dibangun” agar setara dengan daerah lain. Pandangan tersebut perlu diperluas. Anambas bukan hanya wilayah yang tertinggal. Melainkan frontier biru—ruang perbatasan laut yang memiliki potensi ekonomi, ekologis, dan geopolitik yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Gagasan Anambas Blue Frontier muncul dari kesadaran bahwa pendekatan pembangunan konvensional tidak lagi memadai untuk wilayah seperti ini. Industrialisasi berat, eksploitasi sumber daya, atau pariwisata massal berisiko merusak ekosistem laut yang rapuh sekaligus tidak memberi nilai strategis jangka panjang.

Dibutuhkan model baru: pembangunan yang menghadirkan manusia, aktivitas ekonomi, dan infrastruktur, namun dengan jejak ringan dan tujuan yang jelas. Menjaga laut, menguatkan kehadiran negara, dan menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan.Dalam konteks ini konsep Anambas Nomad relevan. Dunia kerja global tengah mengalami pergeseran struktural. Jutaan profesional kini bekerja jarak jauh. Mengelola bisnis, riset, kebijakan, dan teknologi lintas negara tanpa harus berada di pusat kota.

Namun sebagian besar ekosistem kerja jarak jauh terkonsentrasi di kota wisata yang padat dan bising. Anambas menawarkan kebalikan: tempat bekerja dari kesunyian alam, tanpa memutus koneksi dengan dunia luar.

Dengan infrastruktur digital yang andal—konektivitas satelit, ruang kerja bersama yang tenang, fasilitas konferensi daring, dan sistem energi mandiri—Anambas dapat menjadi basis kerja jarak jauh yang memungkinkan produktivitas tinggi sekaligus kualitas hidup yang lebih sehat.