Railway Scenic Index

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 17/03/2026

 

 

 

Indonesia sesungguhnya memiliki salah satu “jalur panorama” terpanjang di dunia: rel kereta api. Dari jendela kereta, penumpang dapat menikmati lanskap yang terus berubah.

 

Sawah luas, sungai besar, lembah, hingga pegunungan. Seperti menonton film alam raksasa yang bergerak.

Perjalanan kereta bukan sekadar perpindahan dari kota ke kota. Tetapi juga pengalaman visual tentang Indonesia.

Di Pulau Jawa saja terdapat banyak zona pemandangan yang memikat.

Jalur Purwakarta–Padalarang menghadirkan lembah dan jembatan tinggi di kawasan pegunungan Parahyangan. Segmen Bandung–Nagreg menyuguhkan panorama lembah dari ketinggian.

Tasikmalaya–Banjar memperlihatkan hutan dan sungai dengan jembatan ikonik Cirahong. Purwokerto–Kroya menawarkan bentang Sungai Serayu yang luas, sementara Yogyakarta–Kutoarjo menampilkan hamparan sawah dengan latar gunung.

Semua panorama itu dapat dinikmati langsung dari kursi kereta tanpa perlu perjalanan wisata khusus.

Namun ada paradoks yang tidak bisa diabaikan. Di banyak tempat, koridor rel kereta justru diperlakukan sebagai “halaman belakang” kota dan desa.

Tepi rel kerap dipenuhi sampah, bangunan tidak tertata, atau dinding kusam. Padahal setiap hari ribuan penumpang melihat kawasan tersebut dari jendela kereta.

Lanskap alam yang indah sering kali terganggu oleh lingkungan yang kumuh dan tidak terurus.

Karena itu diperlukan pendekatan baru untuk mengubah cara kita memandang dan menata koridor rel. Salah satu gagasan yang layak dipertimbangkan adalah Railway Scenic Index.

Konsepnya sederhana namun partisipatif. Melalui aplikasi yang disiapkan oleh PT Kereta Api Indonesia, penumpang dapat memberi skor terhadap keindahan zona yang sedang dilewati kereta.

Dengan bantuan GPS, aplikasi mengetahui lokasi kereta dan menampilkan zona penilaian secara otomatis. Penumpang cukup memberi nilai pada aspek seperti kebersihan lingkungan, keindahan lanskap, dan karakter visual kawasan.

Data dari ribuan penumpang setiap hari kemudian dihimpun menjadi peta indeks keindahan sepanjang jalur kereta. Dari peta ini akan terlihat zona paling indah sekaligus zona yang paling membutuhkan perbaikan.

Setiap tahun, hasilnya dapat diumumkan sebagai peringkat Railway Scenic Index.

Sistem ini tidak hanya menjadi alat evaluasi, tetapi juga ajang promosi bagi daerah yang dilewati kereta. Daerah dengan skor tinggi akan dikenal memiliki koridor rel yang indah dan menarik.

Sebaliknya, daerah dengan skor rendah akan terdorong memperbaiki lingkungannya. Kompetisi positif ini dapat memacu pemerintah daerah dan masyarakat untuk menata kawasan rel. Membersihkan sampah, membuat mural, menghadirkan taman kecil, atau memperkuat identitas lokal.

Dengan cara itu, koridor rel tidak lagi menjadi halaman belakang. Melainkan menjdi etalase lanskap daerah.

Jendela kereta akan benar-benar menjadi layar panorama yang memperlihatkan wajah Indonesia yang bersih, indah, dan membanggakan. Bukankah seharusnya begitu?

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...