Kaleidoskop 2025: Indonesia Menjadi Pemain Global

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 31/12/2025

 

 

Tahun 2025 menjadi bab penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menjalankan serangkaian kunjungan diplomatik tingkat tinggi. Memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Dari Asia hingga Amerika Selatan. Dari forum multilateral hingga pertemuan bilateral strategis. Langkah-langkah diplomatik ini mencerminkan ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam tata kelola dunia. Sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kunjungan dimulai di India pada 26 Januari 2025. Ketika Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan dalam perayaan Hari Republik India.

Kehadiran Indonesia sebagai chief guest menegaskan kedekatan diplomatik kedua negara. Sekaligus memperkuat kerja sama strategis di bidang politik, ekonomi, dan budaya.

Pada 19 Mei, lawatan resmi ke Thailand menguatkan hubungan Indonesia – ASEAN. Fokus kerja sama ekonomi dan keamanan regional. Menunjukkan komitmen Indonesia menjaga stabilitas kawasan.

Beberapa minggu kemudian, pertengahan Juni, Indonesia mengunjungi Singapura. Mengikuti Leaders’ Retreat. Kedua negara memperkuat kolaborasi strategis bidang perdagangan dan teknologi. Menegaskan kemitraan bilateral yang erat dan berkelanjutan.

Pada 18 hingga 20 Juni 2025, Presiden Prabowo kunjungan resmi ke Rusia. Menghadiri undangan Presiden Vladimir Putin. Menandai fase penting diplomasi Indonesia di tingkat global.

Presiden Prabowo menghadiri St. Petersburg International Economic Forum. Pertemuan bilateral dengan Putin. Membahas kerja sama strategis sektor ekonomi, teknologi, dan pendidikan.

Hubungan ini menjadi tonggak penting penguatan kemitraan strategis yang produktif. Menunjukkan posisi Indonesia sebagai mitra global yang serius.

Juli 2025, lawatan ke Arab Saudi. Memperluas dimensi diplomasi Indonesia. Menyoroti hubungan antarnegara Muslim. Penguatan solidaritas Islam di panggung dunia. Kunjungan ini membuka ruang dialog terkait isu-isu kawasan dan kerja sama ekonomi. Menegaskan peran Indonesia sebagai negara berpengaruh dalam komunitas Muslim global.

Tidak lama setelah itu, 6–7 Juli, Indonesia tampil di KTT BRICS di Brazil. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS. Menegaskan peranannya dalam mendorong reformasi tata kelola global dan multilateralisme.

Pertemuan bilateral dengan Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva, membahas kerja sama strategis di bidang energi bersih dan bioenergi. Juga dibahas peluang investasi yang signifikan. Indonesia menekankan prinsip keadilan dan inklusivitas, yang secara konseptual terkait dengan dukungan terhadap rakyat Palestina. Menegaskan posisinya sebagai advokat Global South di forum multilateral.

Puncak diplomasi kemanusiaan terjadi di New York pada Sidang Umum ke-80 PBB. Berlangsung dari 19 hingga 27 September 2025. Dalam konferensi tingkat tinggi membahas isu Palestina, Presiden Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara. Mendesak pengakuan kedaulatan Palestina. Menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

Indonesia mengumumkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Menyatakan kesiapan mengirim kontingen pasukan perdamaian ke zona konflik. Pidato ini mendapat apresiasi luas dari pemimpin dunia. Memperkuat posisi Indonesia sebagai suara moral dalam diplomasi global.

Kunjungan kenegaraan ke Australia 12 November menekankan penguatan hubungan bilateral bidang ekonomi, pendidikan, dan pertahanan. Lawatan ke Pakistan pada 8–9 Desember menegaskan koordinasi strategis dengan negara Muslim. Termasuk solidaritas terhadap Palestina dan kerja sama kawasan.

Penutupan rangkaian diplomasi terjadi di Kremlin pada 10 Desember 2025. Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Putin. Memperkuat hubungan strategis, kerja sama sektor energi dan teknologi, serta stabilitas geopolitik.

Meskipun isu Palestina tidak dibahas secara eksplisit, pertemuan ini memiliki implikasi luas bagi diplomasi global. Posisi Indonesia sebagai mediator moderat.

Serangkaian agenda diplomatik ini menunjukkan perpaduan strategi kemanusiaan, geopolitik, dan ekonomi yang solid. Dari sisi kemanusiaan, Indonesia berhasil mendorong gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Melalui partisipasi aktif di KTT Sharm El-Sheikh, mengurangi kekerasan dan melindungi warga sipil.

Di ranah geopolitik, keanggotaan aktif di BRICS, memperkuat hubungan dengan Rusia, Brazil, Arab Saudi, Australia, dan negara besar lainnya. Peran di PBB menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berpengaruh dalam multilateralisme dan diplomasi Global South.

Dari sisi ekonomi, kunjungan luar negeri menghasilkan komitmen investasi besar. Membuka peluang pertumbuhan jangka panjang, dan memperluas jaringan kerja sama bilateral strategis.

Dalam kunjungan ke Brazil pada KTT BRICS, Indonesia menandatangani kesepakatan awal senilai USD 2,5 miliar. Kerja sama energi bersih dan bioenergi. Termasuk pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga biomassa di Sumatera dan Kalimantan.

Di Rusia, diskusi bilateral dengan Presiden Vladimir Putin menghasilkan rencana kerja sama senilai USD 3 miliar. Dalam bidang teknologi, industri pertahanan, dan proyek pembangunan energi nuklir serta pembangkit listrik ramah lingkungan.

Di Singapura, pertemuan dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong memperluas jaringan kerja sama perdagangan dan teknologi finansial. Termasuk kesepakatan memfasilitasi investasi startup dan pengembangan fintech Indonesia–Singapura. Senilai lebih dari USD 500 juta.

Di Australia, lawatan kenegaraan mendorong investasi di sektor pendidikan, infrastruktur, dan pertanian. Nilai komitmen awal sekitar USD 1,2 miliar.

Semua komitmen ini tidak hanya meningkatkan cadangan modal asing. Tetapi juga memperkuat aliansi strategis dan membuka lapangan kerja baru di berbagai sektor. Mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka panjang.

Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana Indonesia bergerak dari negara yang mengikuti arus diplomasi internasional menjadi salah satu pemain utama. Negara ini berhasil memadukan kepentingan nasional dengan solidaritas global dan prinsip kemanusiaan.

Membuktikan diplomasi tidak hanya soal kekuatan politik atau ekonomi. Tetapi juga tentang moralitas, keadilan, dan kemampuan mempengaruhi dunia.

Kaleidoskop diplomasi ini memperlihatkan Indonesia tidak hanya sebagai aktor regional. Tetapi sebagai pemain global. Mampu mengintegrasikan strategi kemanusiaan, geopolitik, dan ekonomi secara simultan. Demi kepentingan bangsa dan dunia.

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com).

Lihat juga...