Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 31/12/2025
Sebentar lagi tahun 2025 akan berlalu. Tahun 2026 akan segera tiba. Beberapa jam lagi. Beragam cara orang menyikapi pergantian tahun itu.
Ada yang melakukan pesta: sederhana hingga glamor. Ada yang memilih hening, melakukan refleksi. Ada pula yang menjalaninya sebagaimana hari-hari biasa, tanpa perayaan khusus.
Pergantian tahun, secara faktual hanyalah pergeseran angka dalam penanggalan. Realitasnya memunculkan ekspresi beragam. Kita dapat melihat bahwa Tahun Baru Masehi bukan sekadar soal waktu. Melainkan soal makna yang terus berubah dari satu zaman ke zaman lain.
Jika ditarik jauh ke belakang, sebelum Masehi, khususnya pada masa Romawi Kuno sekitar abad ke-2 sebelum Masehi, Tahun Baru berakar pada tradisi politik dan mitologis. Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun berkaitan dengan Dewa Janus. Sosok bermuka dua yang memandang ke masa lalu dan masa depan.
Pada fase ini, pergantian tahun bukanlah urusan pribadi, melainkan urusan negara dan kosmos. Tahun baru dimaknai sebagai momen transisi sacral. Ketika manusia memohon keteraturan hidup, stabilitas kekuasaan, dan restu ilahi. Ia menjadi titik peralihan yang sarat mitologi, ritual, dan simbol-simbol religius.
Memasuki tahun 46 sebelum Masehi, ketika Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian, dimensi rasional mulai masuk ke dalam pengaturan waktu. Tahun baru tetap mengandung makna simbolik. Tetapi juga berfungsi sebagai alat administratif yang lebih teratur.
Waktu mulai ditata secara sistematis untuk kepentingan pemerintahan, militer, dan kehidupan sosial. Pada tahap ini, spiritualitas belum sepenuhnya hilang. Ia masih hadir sebagai bingkai makna. Tetapi mulai berdampingan dengan kepentingan praktis manusia.