Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 02/01/2026
Bencana banjir besar yang melanda sebagian wilayah Sumatra tidak hanya menyisakan lumpur dan kerusakan. Tetapi juga mengangkat kembali lapisan lama dalam kesadaran politik Aceh.
Di tengah krisis ekologis dan kemanusiaan, muncul kembali simbol-simbol yang selama ini dianggap telah meredup. Bendera Aceh Merdeka, narasi perlawanan lama, dan perdebatan tentang siapa sebenarnya orang Aceh “asli”.
Diskursus itu menguat setelah pernyataan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf—Mualem—mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka diviralkan. Ia menyebut orang Aceh asli adalah orang Gayo.
Pernyataan ini segera memantik polemik. Bukan hanya karena konteks politiknya. Tetapi karena ia menyentuh inti paling sensitif dari identitas Aceh: tanah, darah, dan sejarah.
Aceh, jika ditarik jauh ke belakang, bukanlah entitas yang lahir bersamaan dengan Islam atau kerajaan-kerajaan besar. Jejak manusia di wilayah ini dapat ditelusuri hingga lebih dari dua belas ribu tahun lalu. Terutama di kawasan pedalaman seperti dataran tinggi Gayo.
Temuan arkeologis menunjukkan komunitas awal telah hidup menetap, berburu, dan kemudian bercocok tanam. Jauh sebelum istilah “Aceh” dikenal. Mereka bukan Aceh dalam pengertian etnis modern. Mereka adalah fondasi biologis dan kultural paling awal dari wilayah ini.
Perubahan besar terjadi ketika migrasi Austronesia masuk Sumatra sekitar tiga – empat ribu tahun sebelum Masehi. Dari fase inilah bahasa, adat, dan struktur sosial yang lebih stabil mulai terbentuk. Komunitas-komunitas yang kini dikenal sebagai Gayo, Alas, dan Kluet tumbuh dari lapisan ini.