Tahun Baru Masehi: Sejarah dan Pergeseran Makna Perayaan

Setiap individu bebas memaknainya. Ada yang menjadikannya momen evaluasi diri, membuat resolusi, dan menata ulang harapan. Ada yang merayakannya sebagai pesta kebersamaan. Ada pula yang bersikap netral. Melihatnya hanya sebagai pergantian kalender administratif.

Di sinilah terlihat paradoks Tahun Baru Masehi kontemporer. Ia telah kehilangan banyak lapisan sakral dan mitologisnya. Tetapi justru memperoleh kebebasan makna. Tahun baru tidak lagi tunggal, melainkan plural. Ia dimaknai sesuai perspektif spiritual, filosofis, dan kultural masing-masing.

Dalam perspektif ajaran Islam, waktu dipahami bukan sebagai siklus yang berulang tanpa makna. Melainkan sebagai amanah yang terus berkurang dan tidak pernah kembali. Al-Qur’an bersumpah atas waktu dan menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian ketika waktu berlalu tanpa nilai (Surah Al-‘Ashr (103:1–3).

Makna pergantian waktu tidak terletak pada perayaannya. Melainkan pada kesadaran akan tanggung jawab atas setiap detik yang telah dan akan dijalani.

Pergantian dari 2025 ke 2026, seperti pergantian tahun-tahun sebelumnya, pada dasarnya hanyalah gerak bumi mengelilingi matahari. Namun manusia selalu memberi makna pada jeda itu. Dari ritual Romawi Kuno sebelum Masehi, penahbisan teologis pada awal Masehi, hingga perayaan sekuler abad ke-21.

Tahun Baru Masehi mencerminkan cara manusia berdamai dengan waktu. Sesuatu yang tidak bisa dihentikan, tetapi selalu diinterpretasikan ulang.

Pada akhirnya, makna terdalam Tahun Baru, sebagaimana Tahun Baru Masehi justru terletak pada kesadarannya yang paling sederhana. Bahwa “hidup terus bergerak”. Dalam narasi ajaran Islam, Rasulullah Muhammad Saw. mengingatkan kerugian terbesar adalah ketika hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin.

Lihat juga...