Tahun Baru Masehi: Sejarah dan Pergeseran Makna Perayaan

Perubahan besar terjadi pada awal Masehi, terutama sejak abad ke-6. Ketika sistem Anno Domini diperkenalkan. Pada fase ini, Tahun Baru Masehi dijadikan tonggak penting dalam sejarah keagamaan Barat.

Kelahiran Nabi Isa—yang dalam tradisi Barat dikenal sebagai Yesus Kristus—dijadikan poros penanggalan. Tahun-tahun tidak lagi sekadar dihitung, tetapi dimaknai sebagai bagian dari misi kenabian dan sejarah keselamatan. Waktu menjadi narasi teologis. Pergantian tahun dipahami sebagai pengingat perjalanan iman dan relasi manusia dengan Tuhan.

Namun, makna tersebut tidak bersifat statis. Seiring berjalannya waktu, abad Pertengahan hingga abad ke-16, terutama sejak reformasi kalender Gregorian pada tahun 1582, Tahun Baru Masehi perlahan mengalami pergeseran.

Penanggalan diseragamkan demi kepentingan ilmiah, navigasi, perdagangan, dan administrasi lintas wilayah. Pada fase ini, tahun baru mulai menjauh dari altar Gereja dan mendekat ke meja kerja. Sakralitas masih ada, tetapi tidak lagi menjadi pusat makna. Rasionalitas dan keteraturan sosial mulai mengambil alih.

Memasuki era modern, khususnya sejak abad ke-18 dan masa Pencerahan, proses desakralisasi waktu semakin menguat. Alam dipahami melalui sains, bukan mitologi. Matahari, bukan dewa, menjadi dasar penghitungan siklus.

Tahun Baru Masehi perlahan kembali ke “asalnya”: sekadar penanda pergantian siklus waktu berdasarkan peredaran matahari. Ia mengalami demitologisasi dan despritualisasi. Makna-makna kosmis dan teologis yang dahulu dilekatkan secara kolektif mulai memudar.

Memudar bukan berarti hilang. Abad ke-20 hingga abad ke-21, makna tahun baru justru menjadi semakin personal. Ia tidak lagi ditentukan secara tunggal oleh negara, gereja, atau mitologi tertentu.

Lihat juga...