Bimtek Penulisan Novel Komunitas Sastra-Ku, Bedah Karya Ahmad Tohari dan Pramoedya Ananta Toer
KULON PROGO – Komunitas Sastra-KU Kabupaten Kulon Progo mengawali tahun 2026 dengan menghelat Bimbingan Teknis Penulisan Novel, Minggu (4/1) di Langgengsari Mbulu Resto, Pengasih, Kulon Progo.
Kegiatan literasi di awal tahun itu diikuti 25 peserta khusus ber-KTP Kulon Progo.
Dua narasumber hadir menyampaikan materi, yaitu Novelis R Toto Sugiharto dan Sastrawan Marwanto.

Sebagai tuan rumah sastrawan Marwanto menyoroti soal Dasar-dasar Penulisan dan Kebahasaan.
Marwanto menyampaikan pentingnya ide atau gagasan tulisan, tuturan, wahana, dan tatanan, serta tips menguasai bahasa.
“Penulis yang baik juga mesti paham EYD dan EBI, serta dinamika bahasa,” tutur Marwanto.
Selain materi teori dalam format power point berjudul “Novel: Kreativitas, Imajinasi, dan Ideologi”, Toto juga memandu praktik oleh peserta yang dibagi menjadi dua kelompok.
Mereka membaca dan membedah dua novel, yaitu “Bumi Manusia” (BM) karya Pramoedya Ananta Toer dan “Ronggeng Dukuh Paruk” (RDP) karya Ahmad Tohari.
Toto sengaja mengambil sampel dua novel tersebut sebagai hasil karya dari dua pengarang kawakan dengan haluan politik yang berbeda.
Kebetulan pula keduanya terbit pada kurun tahun yang sama, yaitu di awal 1980-an pada BM dan pertengahan 1980-an untuk RDP.
Pada saat terbit kali pertama, Agustus 1980 hingga cetak ulang empat kali pada November 1980, buku BM belum dilarang.
Pelarangan beredarnya BM berikut tiga judul sertaannya (tetralogi) oleh Kejaksaan Agung baru pada cetak ulang kelima, Oktober 1981.
Sementara, RDP meski tidak dilarang namun ada banyak bagian paragraf yang disensor pihak instansi militer era Orba.

Pihak rezim Orba melalui kaki tangan militernya mencurigai Tohari saat itu sebagai muslim berideologi merah yang dipresentasikan melalui protagonis Rasus yang dikisahkan sebagai tentara (hijau) namun berpihak atau simpati pada Srintil, seniwati yang terjebak pada manuver seniman berhaluan komunis (merah) di era 1965.
“Dua prosa itu unik. Novel Tohari awalnya trilogi (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala) lalu disatukan dalam satu buku, Ronggeng Dukuh Paruk dengan memasukkan bagian-bagian yang pernah disensor pemerintah. Dari kedua novel itu, peserta bisa mencermati konten ceritanya,” ungkap Toto usai acara.
Selanjutnya, tambah Toto, dengan waktu yang terbatas, maka pembacaan cerita dibatasi pada dua bab dari masing-masing judul novel itu. Diharapkan, dengan praktik membaca dan bedah karya, peserta jadi paham antara teori dan bagaimana praktiknya dari dua karya itu.
Toto yang pernah menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Wates, Kulon Progo ini menyatakan apresiasinya atas kegiatan literasi yang dilaksanakan komunitas Sastra-KU.

Mengingat, ditilik dari kelengkapan fasilitasi peralatan, seperti layar LCD, proyektor, papan kertas plano, kamera handycam untuk dokumentasi serta pelaksanaan yang cuma-cuma di sebuah restoran, biasanya hanya dinas/instansi terkait kebudayaan pemerintah daerah yang mampu menyelenggarakannya.
Ketua Komunitas Sastra-KU, Tri Apriadi mengatakan, forum bimtek tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas pengurus, anggota, dan masyarakat pegiat literasi, selain juga sudah ada yang menulis dan menerbitkan novel seperti, Okti Setiyani, Fajar Ayuningtyas, dan lainnya.
“Kami juga mencoba untuk menyebarluaskan ilmu menulis novel untuk teman-teman di luar komunitas,” ujarnya.