Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 07/05/2026
Di tengah maraknya ceramah dan potongan video agama di media sosial, hadis-hadis tentang keutamaan Yaman sering dikutip tanpa konteks. Akibatnya, muncul kesan bahwa Yaman dan seluruh orang Yaman otomatis paling dekat dengan kebenaran Islam.
Padahal, pemahaman seperti itu terlalu menyederhanakan dalil.
Memang benar, ada sejumlah hadis shahih yang memuji penduduk Yaman. Nabi Muhammad Saw., bersabda: “Iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman” (HR Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat lain beliau menyebut penduduk Yaman sebagai orang yang paling lembut hatinya dan halus perasaannya. Nabi juga mendoakan keberkahan untuk Syam dan Yaman.
Namun, pujian itu memiliki konteks sejarah dan sosial yang jelas. Banyak ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut disampaikan ketika delegasi Yaman datang kepada Nabi. Mereka menerima Islam dengan sikap lembut, terbuka, dan penuh penghormatan terhadap ilmu.
Ini adalah pujian terhadap karakter dan respons mereka terhadap dakwah. Bukan deklarasi bahwa semua orang Yaman, di setiap zaman pasti lebih benar dibanding kaum Muslim lain.
Hal serupa berlaku pada kisah kaum Saba’ dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. ‘Makanlah olehmu dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu Maha Pengampun’” (QS Saba’: 15).
Namun ketika mereka berpaling, Allah mencabut nikmat itu: “Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit…” (QS Saba’: 16).
Ayat ini memang menggambarkan kemakmuran negeri Saba’. Diyakini berada di wilayah Yaman kuno.
Tetapi inti kisah itu justru peringatan. Ketika mereka kufur terhadap nikmat Allah, kemakmuran tersebut dicabut. Jadi ayat itu bukan glorifikasi geografis, melainkan pelajaran tentang syukur dan akibat pembangkangan.
Masalah muncul ketika dalil-dalil ini dipakai untuk membangun romantisme berlebihan terhadap identitas tertentu. Termasuk riwayat-riwayat lemah tentang panji-panji hitam akhir zaman yang kerap dipakai tanpa kehati-hatian ilmiah.
Seolah-olah semua yang berasal dari Yaman otomatis sesuai Qur’an dan Sunnah. Padahal, standar kebenaran dalam Islam tidak pernah ditentukan oleh wilayah, suku, atau nasab.Al-Qur’an sendiri menegaskan: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Hujurat: 13).
Sejarah Islam menunjukkan bahwa kemuliaan tempat tidak menjamin kemuliaan seluruh penduduknya. Makkah, kota paling suci dalam Islam, pernah menjadi pusat penyembahan berhala sebelum Fathu Makkah.
Di Yaman sendiri, selain lahir banyak ulama besar dan tradisi ilmu yang kuat, sejarah juga mencatat konflik politik, fitnah, dan penyimpangan. Sebagaimana negeri-negeri Muslim lainnya.
Karena itu, hadis-hadis tentang Yaman seharusnya dipahami secara proporsional. Sebagai pengakuan Nabi terhadap keutamaan sebagian penduduk Yaman pada konteks tertentu.
Bukan legitimasi untuk mengultuskan sebuah bangsa. Dengan membangun anggapan semua yang berasal dari Yaman pasti paling islami.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.