Ramadhan Terasa Cepat

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 15/03/2026

 

 

Belum lama debat penentuan 1 Ramadhan: antara rukyatul hilal dan wujudul hilal. Kini Ramadhan 2026 M sudah hampir berakhir. Sudah pertengahan 10 hari terakhir.

Setiap tahun, banyak orang merasakan hal yang sama: Ramadhan seolah datang dan pergi begitu cepat. Baru terasa beberapa hari berpuasa, tiba-tiba bulan suci itu sudah memasuki sepuluh hari terakhir.

Fenomena ini sering dibicarakan dalam ceramah keagamaan maupun percakapan sehari-hari. Namun, menariknya, rasa “cepatnya Ramadhan” dapat dijelaskan dari dua sudut pandang: spiritual dalam tradisi Islam dan penjelasan ilmiah dari psikologi.

Dalam perspektif keagamaan, ada hadis yang sering dikaitkan dengan perubahan persepsi waktu. Nabi Muhammad Saw., bersabda bahwa menjelang akhir zaman waktu akan terasa semakin cepat. Setahun seperti sebulan dan sebulan seperti seminggu.

Hadis ini diriwayatkan antara lain dalam Sunan at-Tirmidzi. Sebagian ulama memahami hadis tersebut sebagai perubahan persepsi manusia terhadap waktu.

Bulan Ramadhan yang penuh aktivitas ibadah membuat hari-hari terasa padat. Waktu kemudian seperti melaju lebih cepat.

Selain itu, tradisi ulama juga menyinggung konsep keberkahan waktu. Ulama klasik seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lataif al-Ma’arif menggambarkan bagaimana orang-orang saleh mengisi Ramadhan dengan berbagai ketaatan. Ketika waktu dipenuhi dengan amal, bulan tersebut terasa berlalu dengan cepat.

Ada pula dimensi emosional: manusia cenderung merasakan waktu singkat ketika berada dalam pengalaman yang bermakna dan menyenangkan. Bagi banyak orang beriman, Ramadhan adalah momen spiritual yang sangat dinantikan. Sehingga perpisahannya terasa terlalu cepat.

Di sisi lain, psikologi juga menawarkan penjelasan yang tidak kalah menarik. Dalam kajian Psychology, khususnya penelitian tentang Time perception, manusia tidak merasakan waktu secara objektif. Persepsi waktu dipengaruhi oleh perhatian, aktivitas, dan emosi.

Ketika seseorang menjalani banyak kegiatan—seperti sahur, bekerja, berbuka bersama, hingga tarawih—otak memproses hari sebagai rangkaian aktivitas yang padat. Akibatnya, sebulan terasa lebih singkat daripada yang sebenarnya.

Sebaliknya, fenomena yang berbeda sering terjadi pada anak-anak yang baru belajar berpuasa. Bagi mereka, hari terasa panjang karena perhatian mereka tertuju pada rasa lapar dan menunggu waktu berbuka. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi waktu sangat dipengaruhi oleh fokus mental dan pengalaman pribadi.

Pada akhirnya, cepatnya Ramadhan seharusnya tidak hanya menjadi bahan keluhan atau nostalgia. Justru kesadaran bahwa bulan ini terasa begitu singkat seharusnya memacu setiap Muslim untuk memperbanyak “tabungan” kebaikan—muai dari ibadah, sedekah, hingga memperbaiki diri—sebelum momentum emas itu berakhir.

Ramadhan adalah kesempatan spiritual yang datang hanya sekali dalam setahun. Ketika waktu terasa berjalan cepat, pesan yang tersirat sebenarnya sederhana. Jangan sampai kesempatan yang berharga itu berlalu tanpa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

 

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...