Perang AS-Israel vs Iran: Siapa Untung, Siapa Buntung

Perang AS-Israel vs Iran: Siapa Untung, Siapa Buntung

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/03/2026

 

 

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya memicu ketegangan geopolitik. Tetapi juga mengguncang ekonomi global.

Dalam dinamika perang modern, keuntungan ekonomi sering kali tidak dinikmati oleh negara yang bertempur langsung. Melainkan oleh aktor eksternal yang mampu memanfaatkan perubahan harga energi dan pasar global.

Salah satu pihak yang berpotensi memperoleh keuntungan adalah Rusia. Sebagai eksportir energi besar, Rusia diuntungkan dari lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak Brent sempat mendekati US$100 per barel, atau sekitar Rp1,6 juta per barel (kurs ±Rp16.000). Dalam struktur ekonomi Rusia yang sangat bergantung pada ekspor energi, setiap kenaikan US$10 per barel dapat menambah pendapatan negara hingga sekitar US$40 miliar per tahun, atau sekitar Rp640 triliun.

Jika harga minyak bertahan tinggi selama setahun, tambahan pendapatan energi Rusia diproyeksikan berada pada kisaran Rp640–960 triliun.

Fenomena ini sejalan dengan teori ekonomi komoditas tentang scarcity rent—ketika pasokan global terganggu, produsen yang tetap beroperasi memperoleh keuntungan harga tanpa perlu meningkatkan produksi.

Amerika Serikat juga memperoleh manfaat ekonomi tertentu. Lonjakan harga minyak meningkatkan keuntungan perusahaan energi domestik. Sementara konflik meningkatkan permintaan global terhadap produk industri pertahanan Amerika.

Belanja militer global yang meningkat dapat menghasilkan tambahan kontrak bagi perusahaan pertahanan AS bernilai puluhan miliar dolar. Jika tambahan kontrak mencapai US$30–40 miliar, nilainya setara sekitar Rp480–640 triliun.

Bagi RRC (Cina), keuntungan bersifat strategis dalam perdagangan energi. Karena sanksi dan isolasi pasar Barat terhadap Iran, sebagian besar ekspor minyak Iran mengalir ke Cina dengan harga diskon.

Jika diskon harga mencapai sekitar US$10–15 per barel dan Cina mengimpor sekitar 1 juta barel per hari, maka penghematan biaya energi dapat mencapai US$3,6–5,4 miliar per tahun. Nilainya sekitar Rp57–86 triliun.

India juga berpotensi memperoleh keuntungan serupa melalui impor minyak diskon dari Rusia dan pemasok lain ketika pasar global terguncang. Dengan konsumsi minyak sekitar 5 juta barel per hari, diskon rata-rata US$5 per barel dapat memberi penghematan sekitar US$9 miliar per tahun. Sekitar Rp144 triliun bagi ekonomi India.

Sebaliknya, negara yang berada di garis depan konflik justru menanggung kerugian terbesar. Israel diperkirakan menghadapi biaya perang lebih dari US$50 miliar. Sekitar Rp800 triliun. Setara hampir 10 persen produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

Aktivitas ekonomi juga menurun tajam. Konsumsi rumah tangga sempat turun lebih dari 25 persen selama periode konflik.

Di sisi lain, Iran menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat. Gangguan ekspor minyak dan risiko serangan terhadap infrastruktur energi menyebabkan ekspor minyaknya sempat turun drastis. Kerugian pendapatan minyak diperkirakan mencapai sekitar US$120 juta per hari. Sekitar Rp1,9 triliun per hari.

Kerugian terbesar justru dirasakan oleh masyarakat global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Gangguan di jalur ini memicu kenaikan harga energi yang mendorong inflasi global. Dalam teori ekonomi makro, kondisi ini dikenal sebagai “supply shock energi”. Ketika pasokan komoditas vital terganggu sehingga harga naik, pertumbuhan ekonomi melambat, dan biaya hidup meningkat di banyak negara.

Angka-angka itu dihimpun  dari berbagai sumber. Akurasinya perlu diverifikasi lebih detail. Akan tapi dalam satu hal, pola ekonomi perang terlihat jelas. Negara yang berperang langsung, menanggung biaya terbesar.

Sementara sebagian keuntungan justru dinikmati aktor eksternal yang mampu memanfaatkan perubahan pasar energi global dan persenjataan. Seperti eksportir energi, industri militer, atau negara yang mampu memanfaatkan perubahan pasar global.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...