Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/03/2026
Setiap tahun, tradisi lebaran di Indonesia selalu identik dengan silaturahmi. Keluarga, tetangga, dan sahabat berkumpul, saling bertemu, dan mengucapkan “Minal aidzin wal faizin”.
Ungkapan ini kemudian dilanjut dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Kemudian di balas “Taqabbalallohu minna wa minkum, taqabbal ya Karim”
Tradisi ini sarat makna spiritual, sosial, dan kultural. Momen ini bukan sekadar formalitas. Melainkan bagian dari proses memperkuat hubungan vertikal dengan Tuhan, Allah Swt., dan horizontal dengan sesama manusia.
Secara bahasa, “Minal aidzin wal faizin” berarti semoga kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan menjadi pemenang. Ungkapan ini sejatinya doa vertikal, agar amal ibadah selama Ramadan diterima oleh Allah SWT.
Dasar keagamaannya jelas, tercantum dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Artinya, puasa Ramadan menjadikan orang kembali suci, bersih dari dosa. Secara spiritual kembali kepada fitrah (kesucian). Ibarat bayi lahir baru.
Maka didoakan: “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan menjadi pemenang”. Berkat ibadah Ramadhan yang telah dijalani.
Kemudian, tradisi “mohon maaf lahir dan batin” menegaskan dimensi horizontal. Hubungan antar manusia. Kesalahan terhadap Allah dapat diampuni melalui taubat. Tetapi dosa terhadap sesama hanya bisa dihapus melalui saling memaafkan.
Hal ini diperkuat oleh hadis:
“Barangsiapa menzalimi saudaranya, hendaklah ia minta maaf kepadanya sebelum hari kiamat.”
(Riwayat Shahih Muslim)
Bahkan ada hadis lain yang menyebutkan bahwa: ketika dua Muslim saling berjabat tangan, dosa-dosa kecil mereka dapat diampuni sebelum jabat tangan berakhir (Riwayat Shahih Muslim). Ini menunjukkan bahwa interaksi sosial yang tulus, seperti berjabat tangan, memberi salam, atau tersenyum, memiliki nilai spiritual dan membersihkan hati.
Maka setelah mendoakan agar kita termasuk orang-orang yang berhasil kembali suci dan menjadi pemenang itu, kemudian minta maaf atas kesalahannya. “Mohon maaf lahir batin”.
Tradisi ini biasanya dibalas dengan “Taqabbalallohu minna wa minkum, taqabbal ya Karim”. Artinya “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadahmu. Ya Allah Yang Maha Mulia, terimalah.” Balasan ini menegaskan kembali doa vertikal dan penghargaan terhadap usaha ibadah orang lain yang baru saja mendoakan dirinya itu.
Dengan demikian, rangkaian ucapan Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, dan balasan Taqabbalallohu minna wa minkum, taqabbal ya Karim bukan sekadar budaya. Tetapi memiliki justifikasi teologis yang kuat.
Tradisi ini memadukan spiritualitas dan sosial. Memperkuat hubungan vertikal dengan Allah serta horizontal dengan sesama. Menjadikan Idul Fitri lebih dari sekadar momen berkumpul.
Ia (Idul Fitri) menjadi waktu membersihkan hati. Sekaligus mempererat silaturahmi, dan meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam. Saling mendoakan dan saling memafkan.
Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.