OPINI
THOWAF ZUHARON
Pada suatu masa, seorang politikus harus menempuh jalan panjang untuk dikenal rakyat. Ia harus berpidato dari kota ke kota, memasang baliho di persimpangan jalan, menulis gagasan di surat kabar, atau tampil berulang kali di layar televisi. Kini, semua itu dapat dipersingkat oleh sesuatu yang tampak sepele: sebuah lagu berdurasi belasan detik yang beredar tanpa henti di telepon genggam jutaan orang.
Barangkali itulah pelajaran paling menarik dari fenomena lagu MBG Mas Bahlil Ganteng yang dalam beberapa pekan terakhir bergema dari ruang digital Indonesia. Lagu itu terdengar ringan, jenaka, bahkan nyaris absurd. Ia lahir bukan dari ruang kampanye resmi, melainkan dari dunia candaan, parodi, dan satir yang menjadi bahasa sehari-hari generasi media sosial. Namun sejarah kebudayaan sering memperlihatkan kenyataan yang paradoksal: sesuatu yang lahir sebagai lelucon kadang memiliki pengaruh yang lebih panjang dibanding pidato yang disusun dengan sangat serius.
Data percakapan digital menunjukkan bahwa lagu tersebut menghasilkan gelombang perhatian yang luar biasa besar. Ratusan juta interaksi tercatat di berbagai platform, terutama TikTok, tempat algoritma bekerja seperti sungai yang terus membawa satu pesan berulang-ulang ke hadapan pengguna. Dalam dunia seperti itu, yang paling menentukan bukan lagi kualitas pesan, melainkan frekuensi kemunculannya. Sesuatu yang terus hadir di layar perlahan berubah menjadi bagian dari ingatan kolektif.
Di sinilah nama Bahlil Lahadalia memperoleh ruang yang menarik untuk dibaca. Banyak orang mungkin memandang lagu itu sebagai bahan olok-olok. Sebagian lain melihatnya sebagai bentuk kreativitas publik yang spontan. Namun dalam ilmu komunikasi modern, perhatian publik sering kali lebih berharga daripada penilaian publik. Seorang tokoh yang dicintai tentu memperoleh keuntungan politik. Tetapi seorang tokoh yang terus dibicarakan, bahkan ketika dibicarakan dengan nada bercanda, juga memperoleh keuntungan yang tidak kecil.
Marshall McLuhan pernah mengemukakan tesis terkenal bahwa medium adalah pesan itu sendiri. Dalam konteks media sosial, gagasan itu terasa semakin relevan. Orang tidak selalu mengingat isi sebuah lagu, tetapi mereka mengingat nama yang terus disebut di dalamnya. Mereka mungkin lupa lirik lengkapnya, tetapi nama tokoh yang berulang kali muncul akan menetap lebih lama di dalam memori.
Fenomena ini semakin menarik ketika dibaca melalui teori psikologi yang dikenal sebagai mere exposure effect. Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung merasa akrab terhadap sesuatu yang terus-menerus mereka lihat atau dengar. Kedekatan emosional tidak selalu lahir dari kesepakatan ideologis. Ia sering lahir dari kebiasaan. Dari pengulangan. Dari perjumpaan yang terus terjadi tanpa disadari.
Karena itulah lagu Mas Bahlil Ganteng bekerja dengan cara yang tidak sepenuhnya sama dengan propaganda politik konvensional. Ia tidak meminta orang mendukung Bahlil. Ia tidak menawarkan program. Ia tidak menjelaskan visi negara. Namun ia membuat nama Bahlil hadir terus-menerus di ruang kesadaran publik. Dalam politik modern, kehadiran semacam itu merupakan modal yang sangat mahal.
Menariknya, lagu tersebut pada mulanya justru lahir sebagai bentuk sindiran. Ia muncul dari budaya digital yang gemar mengejek figur publik. Tetapi seperti banyak peristiwa lain di era media sosial, sindiran yang terus diulang sering kehilangan daya kritisnya. Ejekan berubah menjadi hiburan. Hiburan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan perlahan berubah menjadi kedekatan emosional.
Kita pernah menyaksikan gejala serupa dalam berbagai peristiwa politik dunia. Tokoh-tokoh populis modern sering tumbuh bukan semata karena kualitas program mereka, melainkan karena kemampuan mereka menguasai ruang perhatian publik. Mereka menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Mereka menjadi meme, menjadi bahan candaan, menjadi simbol budaya populer. Pada titik tertentu, batas antara politik dan hiburan menjadi semakin kabur.
Di sinilah pemikiran Antonio Gramsci menemukan relevansinya kembali. Gramsci mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya dibangun melalui institusi negara, tetapi juga melalui hegemoni kebudayaan. Seseorang menjadi berpengaruh bukan karena ia memerintah, melainkan karena kehadirannya diterima sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat.
Ketika anak-anak sekolah menyanyikan lagu yang memuat nama seorang tokoh politik, sesungguhnya sedang berlangsung proses yang lebih dalam daripada sekadar bernyanyi. Nama itu masuk ke ruang keseharian. Ia hadir di sela-sela permainan, percakapan, dan hiburan. Ia menjadi bagian dari lanskap budaya yang membentuk generasi baru.
Aspek generasional inilah yang layak dicermati lebih jauh. Anak-anak yang hari ini lahir setelah tahun 2010 termasuk dalam kelompok yang oleh para peneliti disebut sebagai Generasi Alfa. Mereka adalah generasi pertama yang sejak lahir hidup bersama algoritma. Mereka mengenal dunia bukan melalui halaman koran, melainkan melalui layar sentuh. Mereka menemukan tokoh publik bukan melalui buku biografi, melainkan melalui video pendek yang muncul berulang kali di beranda mereka.
Bagi generasi ini, politik tidak selalu hadir dalam bentuk pidato kenegaraan atau debat kebijakan. Politik sering datang dalam bentuk lagu, meme, cuplikan video, atau potongan humor yang beredar cepat. Karena itu, tidak mengherankan apabila figur yang mampu menembus ruang budaya populer memiliki peluang untuk membangun kedekatan emosional yang jauh lebih kuat dibanding figur yang hanya hadir dalam ruang formal.
Sebagian dari Generasi Alfa yang hari ini berusia belasan tahun akan memasuki usia pemilih pada Pemilu 2029. Mereka memang belum menentukan pilihan politik hari ini. Namun memori budaya yang terbentuk pada masa remaja sering meninggalkan jejak yang panjang. Dalam ilmu komunikasi politik, dikenal konsep long-term familiarity effect, yaitu kecenderungan seseorang merasa lebih dekat dengan figur yang telah lama hadir dalam pengalaman sosialnya.
Tentu saja hal itu tidak berarti bahwa mereka otomatis akan memilih Bahlil Lahadalia. Politik tidak pernah sesederhana hubungan sebab-akibat yang lurus. Pilihan elektoral ditentukan oleh banyak faktor: kondisi ekonomi, performa pemerintahan, konfigurasi partai politik, dinamika koalisi, hingga kualitas lawan yang dihadapi. Namun dikenal lebih dahulu oleh publik merupakan keuntungan yang tidak bisa diremehkan.
Dalam banyak kasus, politik adalah kompetisi antara nama-nama yang sudah akrab di telinga masyarakat. Dan di era algoritma, proses menjadi akrab itu sering kali berlangsung jauh sebelum kampanye resmi dimulai.
Pada titik ini, fenomena Mas Bahlil Ganteng dapat dibaca sebagai gejala kebudayaan yang lebih luas. Kita sedang hidup di zaman ketika citra bergerak lebih cepat daripada gagasan. Ketika meme lebih mudah diingat daripada manifesto. Ketika video berdurasi lima belas detik kadang memiliki daya jangkau yang tidak mampu dicapai oleh pidato satu jam.
Jean Baudrillard pernah menulis tentang masyarakat simulasi, sebuah masyarakat yang hidup di tengah lautan citra. Dalam dunia semacam itu, representasi sering kali lebih kuat daripada realitas itu sendiri. Tokoh politik tidak lagi hidup hanya melalui kebijakan yang mereka buat, tetapi juga melalui simbol-simbol yang terus diproduksi dan direproduksi oleh media.
Karena itulah perdebatan mengenai apakah lagu ini merupakan pujian atau sindiran sesungguhnya menjadi kurang penting. Yang jauh lebih penting adalah kenyataan bahwa publik terus membicarakannya. Dalam ekonomi perhatian, dibicarakan adalah mata uang yang paling berharga.
Namun ada satu catatan penting yang tidak boleh diabaikan. Data yang sama menunjukkan bahwa viralitas lagu tersebut tidak otomatis mengubah persepsi publik terhadap program Makan Bergizi Gratis. Ketika percakapan memasuki wilayah kebijakan, masyarakat tetap menunjukkan sikap kritis terhadap berbagai persoalan tata kelola, efektivitas anggaran, maupun berbagai kontroversi yang mengiringinya.
Temuan ini justru memperlihatkan kedewasaan tertentu dalam ruang publik Indonesia. Masyarakat tampaknya masih mampu membedakan antara hiburan dan kebijakan. Mereka dapat tertawa bersama sebuah lagu, tetapi tetap mempertahankan penilaian kritis terhadap program negara.
Meski demikian, sejarah politik mengajarkan bahwa pemilu tidak hanya ditentukan oleh penilaian rasional. Ia juga ditentukan oleh emosi, kedekatan, simbol, dan rasa akrab. Dalam konteks itulah fenomena Mas Bahlil Ganteng menjadi menarik untuk dicermati.
Mungkin lagu itu hanya sebuah tren yang akan hilang beberapa bulan lagi. Mungkin pula ia akan tenggelam bersama ribuan konten viral lainnya. Tetapi mungkin juga, tanpa disadari para penciptanya, lagu itu sedang menanam benih yang kelak tumbuh menjadi modal politik yang besar.
Sebab sejarah sering bergerak melalui jalan-jalan kecil yang tidak terlihat oleh para peramal politik. Kadang sebuah gerakan besar bermula dari percakapan sederhana. Kadang sebuah popularitas nasional tumbuh dari bahan tertawaan. Dan kadang seorang tokoh memasuki panggung besar bukan melalui pidato yang menggetarkan, melainkan melalui lagu ringan yang dinyanyikan anak-anak sambil bermain.
Di republik yang semakin dikuasai algoritma, kemungkinan-kemungkinan semacam itu tidak lagi terdengar mustahil. Bahkan bisa jadi, beberapa tahun mendatang, ketika peta politik 2029 benar-benar terbuka, kita akan menoleh ke belakang dan menemukan bahwa salah satu jejak awal perjalanan itu pernah dimulai dari sebuah lagu sederhana yang terus diputar, terus dinyanyikan, dan terus diingat:
“MBG, Mas Bahlil Ganteng…”
Dan pada saat itu kita mungkin menyadari bahwa dalam politik digital abad ke-21, kekuasaan tidak selalu lahir dari pidato. Kadang ia lahir dari irama yang dianggap sekadar gurauan. Rangkaian irama lagu dan lirik yang semakin memastikan Bahlil Lahadalia sebagai lawan kuat Prabowo dan berbagai Capres lain di 2029 nanti.