Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 18/07/2026
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan instrumen penting dalam memperkuat ekonomi desa. Semakin besar jumlah KDMP yang tumbuh di berbagai daerah, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pengelolaan transparan, akuntabel, dan mudah dipantau.
Pengawasan secara manual akan semakin sulit dilakukan ketika jumlah koperasi terus bertambah. Salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan adalah pembangunan Centralized Financial Reporting System. Ialah sistem pelaporan keuangan terpusat.
Sistem ini bukan berarti mengambil alih pengelolaan KDMP di tingkat desa. Pengurus KDMP tetap memiliki kewenangan menjalankan usaha dan mengambil keputusan operasional.
Yang dibangun adalah sistem standar nasional agar seluruh transaksi dan laporan keuangan dapat dipantau secara real time oleh pihak berwenang. Misalnya Pemerintah melalui “tim evaluasi atau tim penyehatan koperasi di Kementerian Koperasi”. Dengan demikian, digitalisasi justru memperkuat tata kelola tanpa mengurangi kemandirian koperasi.
Kebutuhan sistem ini sangat jelas. Banyak organisasi besar menghadapi tantangan ketika jumlah unit usaha semakin banyak. Tantangan itu berupa perbedaan standar laporan, keterlambatan pelaporan, sulitnya mendeteksi masalah keuangan, serta lemahnya pengawasan.
Melalui sistem terpusat, kondisi setiap KDMP dapat diketahui lebih cepat melalui indikator sederhana. Seperti koperasi sangat sehat, sehat, perlu perhatian, tidak sehat, atau kritis. Kategori ini lebih mudah dipahami dibandingkan skor angka dan dapat menjadi dasar pendampingan maupun evaluasi.
Manfaatnya sangat besar. Pemerintah dan pembina dapat mengetahui KDMP mana yang berkembang dan mana yang membutuhkan pendampingan.
Pengurus memperoleh alat bantu untuk mengelola usaha secara lebih profesional. Pihak perbankan mudah untuk menteksi koperasi mana saja yang pangajuan pembiayaannya sehat untuk dibantu.
Masyarakat juga dapat memperoleh informasi transparansi mengenai kondisi koperasi di wilayahnya tanpa harus membuka data yang bersifat pribadi (misalnya data peminjam kredit). Transparansi semacam ini akan meningkatkan kepercayaan anggota sekaligus mendorong budaya akuntabilitas.
Secara teknis, sistem ini dapat berbentuk platform nasional berbasis cloud. Setiap KDMP memiliki akun dan ruang data sendiri. Transaksi hanya dapat dimasukkan oleh pengguna yang memiliki kewenangan seperti pengurus atau bendahara.
Seluruh aktivitas tercatat melalui sistem audit trail sehingga perubahan data dapat dilacak. Di tingkat pusat tersedia dashboard nasional yang menampilkan kondisi seluruh KDMP, termasuk laporan pemasukan, pengeluaran, neraca, arus kas, serta sistem peringatan dini apabila terdapat pola transaksi yang tidak wajar.
Sementara itu, masyarakat dapat mengakses dashboard publik yang menampilkan status kesehatan setiap KDMP tanpa membuka data yang bersifat rahasia. Masyarakat bisa ikut mendorong perkembangan koperasi jika pengurus mengalami kelambanan.
Sistem ini juga dapat dilengkapi tutorial digital sehingga pengurus di berbagai daerah dapat belajar secara mandiri melalui video, panduan aplikasi, dan layanan bantuan daring. Tanpa harus mengeluarkan biaya training yang besar.
Menurut perhitungan AI, pembangunan sistem nasional diperkirakan membutuhkan sekitar Rp20–45 miliar untuk tahap awal. Rinciannya secara global meliputi pembangunan aplikasi dan database nasional sekitar Rp10–25 miliar, infrastruktur teknologi dan keamanan sekitar Rp2–5 miliar, serta implementasi, pelatihan digital, dan dukungan pengguna sekitar Rp5–15 miliar.
Dibandingkan membangun sistem yang berbeda-beda di setiap daerah, investasi ini jauh lebih efisien. Satu platform dapat digunakan oleh seluruh KDMP di Indonesia.
Dengan investasi yang relatif kecil dibandingkan skala ekonomi desa yang ingin dibangun, KDMP dapat memiliki fondasi tata kelola modern. Centralized Financial Reporting System bukan sekadar aplikasi keuangan, tetapi instrumen untuk membangun kepercayaan, transparansi, dan keberlanjutan koperasi desa.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Mantan Ketua Koperasi Mahasiswa. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.