Supaya Rabi Bukan Seloroh, Cicipilah Serabi di Dapur Yu Saroh: Ketika Mitos Jawa, Serat Centhini, dan Harumnya Serabi Dapur Yu Saroh Menyatu dalam Sepiring Kebahagiaan

OLEH ARON

Setiap jam 2 atau 3 dini hari, ketika kebanyakan orang masih terlelap dan berselimut, pasangan muda suami istri berjuluk Lailatul Musyfiroh dan Ikhsan Pua Mbusa, justru berjibaku bersama memasak Serabi Kocor di rumahnya yang terletak di Cluster The Bay Paradise Resort Residence, Sarua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Puluhan hingga ratusan kue Serabi Kocor mereka produksi saban hari. Kudapan makanan legendaris jadul yang merupakan makanan khas dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Laila sendiri memang berasal dari Yogyakarta. Ia memang bertekad memproduksi dan memasarkan Serabi setiap hari, menyambung rejeki sekaligus ingin melestarikan tradisi masakan Serabi yang memang memiliki makna filosofis dan mitologis dalam budaya Jawa.

Kue Serabi buatan Ikhsan Pua Mbusa. Foto: Instagram

 

Bagaimanapun, dalam tradisi masyarakat Jawa, makanan tidak pernah sekadar hanya dimaknai mengenyangkan perut. Selalu punya makna bersayap dan berlapis-lapis arti. Makanan juga menyimpan doa, harapan, bahkan mitos yang diwariskan berabad-abad.

Ada jenang yang dipercaya sebagai lambang keselamatan, tumpeng yang menjadi simbol hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan ada pula serabi—atau surabi—yang sejak lama dipeluk masyarakat sebagai kudapan yang akrab dengan kisah cinta dan pernikahan.

Orang-orang tua di desa sering berseloroh, “Yen pengin cepet rabi (menikah, Red), manganen serabi.” Jika ingin segera menikah, makanlah serabi.

Tentu saja, tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa sepotong serabi mampu menghadirkan jodoh. Namun dalam kebudayaan Jawa, permainan bunyi antara kata serabi dan rabi telah lama hidup sebagai kirata basa atau cocoklogi yang jenaka sekaligus menghangatkan percakapan.

Di balik candaan itu ternyata tersimpan jejak sejarah yang panjang. Serabi telah dikenal masyarakat Nusantara sejak masa Jawa Kuno. Sejumlah kajian etimologi mengaitkan namanya dengan akar kata Sanskerta yang bermakna harum atau wangi, sementara sebagian peneliti kuliner melihat adanya persilangan pengaruh India dengan tradisi dapur Jawa yang kemudian berkembang menjadi identitas kuliner Nusantara.

Pakar kuliner Bondan Winarno juga pernah mengemukakan bahwa serabi kemungkinan lahir dari perjumpaan budaya kuliner India dan Belanda yang kemudian berakulturasi secara khas di Indonesia.

Kue Istimewa dalam Serat Centhini Disebut Pakubuwana V

Dalam Serat Centhini, mahakarya sastra Jawa yang disusun atas perintah Pakubuwana V pada awal abad ke-19, serabi berkali-kali disebut sebagai bagian dari sajian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ia hadir dalam prosesi pernikahan, ruwatan, kenduri, hingga pertunjukan wayang. Bahkan beberapa pupuh mencatat sembilan jenis serabi sebagai bagian dari sesaji yang dipersembahkan dalam upacara-upacara sakral.

Di situlah serabi memperoleh makna yang lebih dalam daripada sekadar jajanan pasar. Bentuknya yang bulat dipandang sebagai lambang kebulatan tekad dan keutuhan ikatan keluarga. Warna putihnya menjadi perlambang kesucian niat ketika dua insan memulai kehidupan baru. Santan yang menyatu dengan tepung beras menggambarkan persatuan yang tidak mudah dipisahkan. Karena itu, tidak mengherankan bila masyarakat Jawa kemudian menghubungkan serabi dengan harapan memperoleh jodoh yang baik dan rumah tangga yang harmonis.

Tradisi itu bahkan berkembang menjadi ritual budaya. Di Gunungkidul, masyarakat Desa Bandung, Playen, mengenal Upacara Serabi Kocor, sebuah tradisi meminta hujan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta. Ritual tersebut berpusat pada kisah Eyang Andansari yang dalam legenda lokal mencari air menggunakan keranjang sehingga airnya terus mengucur membasahi bumi.

Serabi yang disiram kuah gula jawa dan santan melambangkan derasnya air kehidupan. Dalam tafsir budaya masyarakat setempat, ia sekaligus menjadi simbol air susu ibu yang menghidupi anak-anak dan lambang kesuburan tanah pertanian yang menanti turunnya hujan. Tradisi ini masih terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, dan ikhtiar manusia dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Begitulah cara masyarakat Jawa memaknai makanan: bukan sekadar rasa, melainkan juga cerita. Barangkali itulah sebabnya mengapa aroma serabi yang dipanggang di atas tungku selalu terasa lebih hangat daripada sekadar harum santan. Ia membawa ingatan pada rumah, keluarga, masa kecil, dan harapan-harapan sederhana yang tak pernah usang.

Nuansa itulah yang kini dihidupkan kembali oleh Dapur Yu Saroh di kawasan Sarua Indah, Ciputat. Usaha kuliner yang dirintis Lailatul Musyfiroh bersama Ikhsan Pua Mbusa—penyanyi yang pernah menembus 30 Besar Indonesian Idol Season 10 pada 2019—tidak sekadar menjual serabi. Mereka menghadirkan kembali pengalaman menikmati kudapan tradisional dengan sentuhan kekinian tanpa menghilangkan rohnya sebagai warisan budaya.

Sebagai penyanyi Indonesian Idol yang pernah mendapatkan tiket Titanium dari Bunga Citra Lestari, Ikhsan juga terampil memanggang Serabi hingga pinggirnya renyah, bagian tengahnya tetap lembut, lalu disajikan hangat dengan aneka pilihan rasa yang menggoda. Aroma santan yang keluar dari cetakan panas seolah mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Dapur Yu Saroh Populer di Instagram Penonton Hampir 800.000

Tidak mengherankan apabila Dapur Yu Saroh belakangan menjadi salah satu kuliner yang ramai diperbincangkan di Instagram. Netizen yang menonton cuplikan video pembuatan Serabi di Instagram dapur Yu Saroh sudah tembus lebih dari 700.000 kali penayangan. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk mencicipi, tetapi juga menikmati suasana hangat yang mengingatkan pada dapur-dapur tradisional di kampung halaman.

Dan tentu saja, tak sedikit yang datang sambil bergurau, “Siapa tahu habis makan serabi, segera rabi (Nikah—Red).”

Candaan itu mungkin tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun bukankah setiap kisah cinta memang selalu membutuhkan sedikit harapan, sedikit doa, dan sedikit kehangatan?

Jika mitos Jawa itu benar, tentu banyak orang akan rela mengantre. Kalaupun ternyata tidak, setidaknya mereka pulang dengan perut kenyang, hati hangat, dan senyum yang lebih lebar.

Menjelang sebulan sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 81 pada 17 Agustus 2026, Dapur Yu Saroh menghadirkan promo yang sayang dilewatkan. Serabi yang biasanya dibanderol sekitar Rp5.000 per buah kini tersedia dalam promo spesial Rp10.000 untuk tiga buah serabi.

Bagi warga Tangerang Selatan dan sekitarnya, Dapur Yu Saroh dapat dikunjungi di Cluster The Bay Paradise Resort Residence, Blok C3 Nomor 2A, Sarua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan. Bagi yang lebih nyaman menikmati dari rumah, serabi hangat ini juga dapat dipesan melalui aplikasi GrabFood maupun GoFood dengan mencari Dapur Yu Saroh – Sarua Indah, Ciputat.

Siapa tahu, setelah mencicipi kehangatan serabi yang telah menemani perjalanan budaya Jawa selama berabad-abad, Anda bukan hanya menemukan cita rasa yang sulit dilupakan, tetapi juga sebuah cerita yang ingin terus dibagikan kepada orang-orang tercinta.

Karena dalam kebudayaan Jawa, makanan terbaik bukanlah yang paling mahal. Melainkan yang mampu membuat seseorang merasa pulang, feel at home ke Ndalem (rumah fisik maupun makna rumah spiritual dalam khazanah Jawa). Apalagi, konon, Serabi Dapur Yu Saroh selalu mengajak para pembelinya untuk pulang terus menerus mencicipi legit kental segar Serabi Kocor yang semakin hari semakin tersohor.

Lihat juga...