Parade Puisi Muharram “Syair & Syiar” Sukses Digelar: Dari Refleksi Kota hingga Curhatan Santri Gen Z

YOGYAKARTA – Menyambut momentum tahun baru Islam, sebuah panggung seni bertajuk Parade Puisi Muharram: Syair & Syiar sukses digelar dengan khidmat dan semarak pada semalam suntuk di Pesantren/LKSA Sasana Kreatif Mandiri Sambilegi Sleman Yogyakarta. Acara yang mempertemukan para penyair, budayawan, akademisi, dan tokoh agama ini berhasil menyedot perhatian ratusan penonton yang memadati ruang refleksi budaya spiritual.

Ketua panitia penyelenggara, M. Hariwijaya sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren/LKSA Sasana Kreatif menyatakan bahwa tajuk “Syair & Syiar” sengaja diangkat untuk mengembalikan fungsi sastra sebagai cermin sosial sekaligus obor spiritual di tengah disrupsi zaman. “Kami ingin malam Muharram ini tidak hanya menjadi pergantian kalender, tetapi menjadi ruang kontemplasi budaya di mana bait-bait puisi bertransformasi menjadi syiar yang menggetarkan batin, sekaligus membahagiakan santri Yatim Piatu Dhuafa dengan santunan” ujarnya.

Acara yang berlangsung dinamis ini dibagi menjadi tiga sesi utama yang membawa penonton larut dalam gelombang emosi dan perenungan yang mendalam.

Suara Perempuan dan Jeritan Realitas Santri
Parade dibuka oleh generasi muda dan penyair perempuan yang membawa kesegaran tema visual-audio. Kak Ummi Azzura Wijana membuka panggung dengan pembacaan memukau lewat puisi “Ibu yang Mengubah Bara Matahari Menjadi Hijau Lautan”. Disusul oleh Angelina Syafira (“Rindu di Balik Pesantrenku”), Anggun Sinta Mawarsari (“Yang Maha Esa”), dan Ana Khania (“Suka Duka Menjadi Santri”) yang secara jujur memotret dinamika kehidupan spiritual di balik dinding pesantren. Sesi ini ditutup secara kritis oleh Naswasya lewat puisi satirisnya, “Indonesia Emas, Katanya”, yang memancing riuh tepuk tangan penonton atas gugatan sosialnya terhadap masa depan bangsa.

Eksplorasi Estetika, Monolog, dan Kritik Gen Z
Memasuki sesi kedua, panggung semakin hangat dengan hadirnya para penyair senior dan budayawan lintas disiplin. Kang Acep membuka sesi lewat kekhusyukan puisi “Gema Tahlil”, dilanjutkan oleh performa magis Ki Tono Hadi melalui “Abjad Putriku” dan “Lelaki Penunggang Angin”, serta pembacaan sastra Jawa tradisional oleh Nyadi Kasmoredjo dalam “Gurit Muharram”.

Suasana semakin kontekstual saat R. Toto Sugiharto membawakan “Refleksi Kota Yogyakarta”, sebuah potret mendalam mengenai dinamika kultural dan spiritual kota budaya. Ketajaman tema berlanjut lewat Gus Zuhdi yang memotret realitas religiusitas mutakhir melalui “Santri Gen Z di Pesantren”. Sesi ini mencapai klimaks teatrikal yang memukau lewat penampilan Kang Teguh dalam Monolog “Tangan”, sebuah eksplorasi gerak dan kata yang sarat akan pesan filosofis moral kemanusiaan.

Sebagai pamungkas malam sakral tersebut, suasana dialihkan menjadi hening dan magis dalam Sesi Renungan yang dipimpin langsung oleh tokoh agama dan kebudayaan terkemuka, KH Nasruddin Anshoriy. Beliau menyampaikan khotbah kebudayaan sekaligus refleksi spiritual mendalam bertajuk “RENUNGAN DAN MUHASABAH 10 MUHARRAM: Menemukan Kembali Autentisitas Diri dalam Lipatan Waktu”. Satu puisi yang beliau baca berjudul “Karbala” menghentak hadirin dengan kesadaran baru. “Dengan satu puisi ini, saya telah berkeliling dunia,” kata beliau memotivasi santri.

Dalam petuahnya, KH Nasruddin Anshoriy mengajak seluruh hadirin untuk menanggalkan jubah keduniawian, kesombongan, dan kepalsuan modernitas demi kembali menemukan kesejatian diri di hadapan Sang Khalik. Sesi terakhir ini sukses membawa seluruh hadirin tenggelam dalam suasana muhasabah (introspeksi diri) yang total, diiringi doa bersama yang menggetarkan ruangan.

Secara keseluruhan, Parade Puisi “Syair & Syiar” tidak hanya sukses secara estetika panggung, namun berhasil menegaskan kembali bahwa kolaborasi antara seni, budaya Jawa-Nusantara, dan nilai-nilai Islam mampu menjadi penawar dahaga spiritual bagi masyarakat urban hari ini. Apalagi ditambah penampilan spontanitas santri memainkan membawakan nadzoman Alfiah Ibnu Malik, Singiran Ngudi Susilo dengan iringan hadroh Sasana Kreatif Mandiri.

Lihat juga...