Padepokan Garuda Yaksa di Puncak Gunung Pancar: Ruang Spiritual Prabowo Subianto sebagai Satu-satunya Presiden yang Berumah dalam Sunyi Puncak Gunung

OPINI

Oleh Thowaf Zuharon

Di negeri yang selama berabad-abad membangun pusat-pusat kekuasaan di tepi sungai, di dataran subur, atau di tengah kota-kota yang ramai oleh perdagangan dan lalu lintas politik, ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan dari pilihan hidup Presiden Prabowo Subianto. Jauh sebelum menduduki jabatan tertinggi negara, ia telah memilih menetap di sebuah kawasan yang berada jauh dari keramaian metropolitan. Di lereng Gunung Pancar, kawasan yang sejak lama dikenal sebagai ruang hijau di pinggiran Bogor, berdiri Padepokan Garuda Yaksa, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi rumah sekaligus ruang kontemplasi bagi dirinya.

Pilihan itu tampak sederhana bila dilihat dari sudut pandang kehidupan modern. Namun, ketika ditempatkan dalam lanskap sejarah dan kebudayaan Nusantara, ia menghadirkan makna yang lebih dalam. Dalam kosmologi Sunda kuno, gunung bukan sekadar bentang alam.

Gunung adalah ruang perenungan, tempat manusia mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia untuk mendengar suara yang lebih sunyi di dalam dirinya. Kawasan pegunungan di sekitar wilayah Pajajaran sejak lama dipandang sebagai tempat para resi, pertapa, penjaga mata air, dan pelaku laku spiritual yang memilih menjauh dari pusat-pusat kekuasaan demi memperoleh kejernihan batin.

Karena itu, menarik bahwa satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang memilih berumah di kawasan puncak pegunungan justru datang dari latar belakang yang identik dengan dunia kekuasaan modern. Prabowo lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, merupakan salah satu ekonom paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Lingkungan keluarganya memberikan akses yang luas terhadap pendidikan, jejaring internasional, dan kesempatan ekonomi yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Namun perjalanan hidup Prabowo justru bergerak ke arah yang berbeda. Alih-alih mengabdikan dirinya pada dunia bisnis dan akumulasi kekayaan, ia memilih jalan militer yang keras, penuh risiko, dan jauh dari kenyamanan kehidupan elite ekonomi.

Pilihan hidup semacam itu mengingatkan kita pada gambaran lama tentang pemimpin dalam tradisi Nusantara. Dalam berbagai naskah kuno, kekuasaan tidak pernah dipahami semata-mata sebagai kemampuan mengendalikan manusia lain. Kekuasaan pertama-tama dipandang sebagai kemampuan mengendalikan diri sendiri. Seorang pemimpin ideal bukanlah orang yang paling kaya atau paling berkuasa, melainkan mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan kedalaman spiritual.

Tradisi Jawa mengenal konsep Sayidin Panatagama, yakni pemimpin yang bukan hanya mengatur urusan pemerintahan, melainkan juga menjaga keteraturan moral dan spiritual masyarakatnya. Dalam berbagai kakawin dan babad, raja ideal digambarkan sebagai sosok yang menyatukan sifat kesatria dengan sifat pertapa. Ia memimpin perang bila diperlukan, tetapi juga memahami pentingnya keheningan. Ia menguasai dunia luar tanpa kehilangan kendali atas dunia batinnya.

Konsep serupa dapat ditemukan dalam berbagai tradisi kepemimpinan Nusantara. Dalam Kakawin Nagarakretagama, Hayam Wuruk tidak hanya digambarkan sebagai penguasa wilayah yang luas, melainkan sebagai pusat keseimbangan kosmos. Dalam tradisi Mataram Islam, seorang sultan dipandang sebagai penjaga harmoni antara jagat kecil dan jagat besar. Dalam tradisi Sunda, figur Prabu Siliwangi dikenang bukan hanya karena kekuatan politiknya, tetapi juga karena kedekatannya dengan alam dan laku spiritual yang menyertai kepemimpinannya. Pada titik inilah gunung memperoleh makna simboliknya. Gunung menjadi ruang tempat seorang pemimpin menata dirinya sebelum menata dunia.

Menariknya, simbolisme gunung tidak hanya ditemukan dalam tradisi Nusantara. Hampir seluruh peradaban besar dunia mengenal gunung sebagai tempat lahirnya kebijaksanaan. Nabi Musa menerima wahyu di Gunung Sinai. Tradisi India mengenal Himalaya sebagai tempat para resi mencari pencerahan. Dalam Taoisme Tiongkok, pegunungan menjadi ruang pencarian keselarasan antara manusia dan alam. Tradisi Zen Jepang juga memandang gunung sebagai sekolah keheningan yang membentuk ketajaman batin. Seolah-olah umat manusia sejak dahulu memahami bahwa ketinggian geografis sering kali menjadi metafora bagi kedalaman spiritual.

Dalam dunia modern yang semakin materialistik, pandangan seperti itu tampak semakin langka. Kita hidup pada zaman ketika keberhasilan hampir selalu diukur melalui angka. Kekayaan menjadi ukuran prestise. Pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran kemajuan. Jabatan menjadi ukuran kehormatan. Dalam situasi seperti itu, berbagai pemikir spiritual dunia mengingatkan tentang bahaya ketika manusia kehilangan dimensi batinnya.

Thomas Merton menulis bahwa krisis terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan materi, melainkan hilangnya kemampuan untuk berdiam diri dan mengenali dirinya sendiri. Carl Gustav Jung menyebut bahwa banyak problem peradaban berakar pada keterputusan manusia dari pusat spiritual dalam dirinya. Sementara René Guénon melihat modernitas sebagai zaman ketika manusia semakin menjauh dari yang sakral dan semakin terjebak dalam pemujaan terhadap benda-benda.

Dari sudut pandang itulah keberadaan Padepokan Garuda Yaksa menjadi menarik untuk dibaca sebagai simbol. Ia bukan sekadar alamat tempat tinggal seorang presiden. Ia menghadirkan sebuah pesan tentang pilihan hidup. Di saat banyak orang mengejar pusat-pusat keramaian sebagai sumber legitimasi sosial, Prabowo justru membangun kehidupannya di sebuah ruang yang lebih dekat dengan kesunyian.

Tentu saja tidak berarti bahwa tinggal di gunung otomatis menjadikan seseorang lebih bijaksana. Kebijaksanaan tidak lahir dari lokasi geografis semata. Namun pilihan ruang hidup sering kali mencerminkan orientasi batin seseorang, atau setidaknya menunjukkan nilai-nilai yang dianggap penting dalam hidupnya.

Pertanyaan yang kemudian sering muncul dalam berbagai diskusi kebudayaan adalah apakah Prabowo dapat dibaca sebagai sosok yang mendekati gambaran Satria Pinandita Sinisihan Wahyu yang kerap dikaitkan dengan ramalan Ronggowarsito. Pertanyaan ini tentu berada dalam wilayah simbol dan tafsir, bukan wilayah fakta sejarah yang dapat diverifikasi secara ilmiah. Ramalan pada hakikatnya adalah bahasa kebudayaan yang hidup melalui penafsiran dari generasi ke generasi. Karena itu tidak ada jawaban yang pasti mengenai siapa yang dimaksud oleh berbagai nubuat tersebut.

Meski demikian, bila istilah Satria Pinandita dipahami sebagai perpaduan antara keberanian seorang kesatria dan kedalaman seorang pertapa, maka simbol-simbol yang menyertainya memang menarik untuk direnungkan. Seorang kesatria bertugas menghadapi dunia dengan segala kompleksitasnya. Seorang pinandita bertugas memahami dirinya sendiri sebelum memahami orang lain.

Ketika kedua unsur itu bertemu, lahirlah gambaran pemimpin yang tidak sepenuhnya digerakkan oleh ambisi material. Ia memahami bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk melayani sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, makna terdalam Gunung Pancar mungkin bukan terletak pada ketinggian geografisnya, melainkan pada pesan simbolik yang dikandungnya. Dalam kebudayaan Nusantara, gunung selalu mengajarkan satu pelajaran sederhana: semakin tinggi seseorang berada, semakin besar pula kebutuhan untuk menundukkan ego dan mendekatkan diri pada keheningan.

Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas dan kuat, tetapi juga pemimpin yang memiliki kedalaman batin untuk melihat melampaui kepentingan sesaat.

Di tengah zaman yang semakin bising oleh persaingan ekonomi, perebutan pengaruh politik, dan pemujaan terhadap materi, keberadaan sebuah rumah di lereng gunung menghadirkan pengingat yang nyaris terlupakan. Bahwa kekuasaan pada akhirnya hanyalah persinggahan. Bahwa jabatan hanyalah amanah yang sementara. Dan bahwa manusia, betapapun tingginya ia mendaki tangga kekuasaan, tetap membutuhkan ruang sunyi untuk mendengar kembali suara yang paling jujur dari dalam dirinya sendiri.

Dalam berbagai ajaran kebijaksanaan kuno, pemimpin yang terlalu materialis akan selalu melihat rakyat sebagai angka. Sebaliknya pemimpin yang memiliki dimensi spiritual akan melihat rakyat sebagai manusia.
Ia mungkin tidak sempurna.
Ia mungkin tetap membuat kesalahan.
Tetapi ia memahami bahwa kekuasaan hanyalah persinggahan.
Sebagaimana gunung memahami kabut.
Kabut datang dan pergi.
Gunung tetap diam.

Di Padepokan Garuda Yaksa, di tengah hutan yang masih menyimpan gema kosmologi Sunda lama, terdapat sebuah metafora yang menarik tentang kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus berada di tengah keramaian untuk memahami bangsanya. Kadang-kadang ia perlu naik ke tempat yang sunyi agar dapat melihat lebih jauh.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar sering dipimpin oleh mereka yang tidak terlalu terpesona oleh benda-benda.
Mereka memahami bahwa kekayaan hanyalah alat.
Bahwa jabatan hanyalah titipan.
Bahwa negara bukan perusahaan.
Dan bahwa peradaban tidak dibangun hanya oleh angka-angka pertumbuhan, melainkan juga oleh kedalaman jiwa.

Mungkin itulah sebabnya Gunung Pancar terasa lebih dari sekadar lokasi geografis. Ia telah berubah menjadi simbol tentang bagaimana seorang pemimpin memandang dunia. Di tengah zaman yang semakin bising, semakin materialistik, dan semakin tergesa-gesa, gunung itu berdiri sebagai pengingat lama bahwa kekuasaan yang kehilangan kesunyian pada akhirnya akan kehilangan kebijaksanaan.

Dan mungkin, hanya mungkin, di antara desir angin yang melewati pohon-pohon tua Gunung Pancar, bangsa ini sesekali masih dapat mendengar gema ajaran kuno Nusantara: bahwa pemimpin yang baik bukanlah mereka yang paling banyak memiliki, melainkan mereka yang paling mampu melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki.

Lihat juga...