Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 23/10/2026
Di era digital, media sosial efektif merebut perhatian publik, tetapi esai tetap diperlukan untuk membangun pemahaman. Keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan.
TikTok, Instagram Reels, dan YouTube mempercepat penyebaran pesan. Sedangkan esai menyediakan ruang untuk menguji gagasan, menjelaskan persoalan, dan membentuk opini berdasarkan argumentasi.
Dalam perebutan opini publik, perhatian adalah pintu masuk. Sedangkan pemahaman menentukan kualitas penilaian.
Kita hidup di zaman ketika perhatian publik diperebutkan setiap detik. Sebuah video bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam. Potongan pidato pejabat, cuplikan debat politik, atau video tentang kenaikan harga kebutuhan pokok dapat segera memicu reaksi dan perdebatan.
Namun, potongan video yang viral belum tentu menyajikan konteks secara utuh. Ramainya komentar juga tidak otomatis menandakan kuatnya argumentasi.
Herbert A. Simon (1971), melalui konsep ekonomi perhatian, menjelaskan bahwa kelimpahan informasi menjadikan perhatian manusia sebagai sumber daya yang terbatas. Karena itu, perhatian yang berhasil direbut belum tentu menghasilkan pemahaman.
Di sinilah esai menemukan relevansinya.
Esai bukan sekadar tulisan panjang atau ruang untuk menuangkan pendapat. Ia merupakan instrumen untuk menyusun gagasan, menguji asumsi, mempertemukan fakta dengan argumentasi, dan menawarkan perspektif alternatif.
Jika media sosial mampu memancing reaksi, esai menyediakan ruang untuk refleksi. Jika video pendek menyederhanakan pesan agar cepat dipahami, esai memberi kesempatan untuk menjelaskan konteks dan kompleksitas persoalan.
Dalam Elaboration Likelihood Model, Petty dan Cacioppo (1986) menjelaskan bahwa perubahan sikap yang lebih mendalam dapat terbentuk ketika seseorang mengevaluasi bukti dan kualitas argumentasi. Bukan hanya mengandalkan daya tarik atau isyarat emosional.
Riset tentang komunikasi politik juga mengingatkan kita agar tidak mempertentangkan keduanya secara mutlak. Eksperimen terhadap 7.609 partisipan di Amerika Serikat menemukan bahwa keunggulan video dibandingkan teks dalam mengubah sikap dan niat perilaku relatif kecil (Wittenberg et al., 2021).
Sementara itu, survei Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa 45% konsumen berita media sosial di Amerika Serikat lebih memilih media berita untuk memperoleh informasi mendalam, dibandingkan 11% yang memilih unggahan media sosial. Artinya, kecepatan distribusi pesan tidak serta-merta menghapus kebutuhan akan penjelasan yang lebih utuh.
Karena itu, tantangan penulis opini hari ini bukan memilih antara esai dan media sosial, melainkan menghubungkan keduanya. Esai dapat menjadi sumber gagasan yang kemudian diterjemahkan menjadi video pendek, infografik, podcast, atau diskusi digital. Media sosial memperluas jangkauan; esai memperkuat substansi.
Dalam demokrasi, keduanya memiliki fungsi strategis. Perhatian membuat suatu isu terlihat, tetapi pemahaman membantu masyarakat menilai persoalan secara lebih kritis.
Tanpa perhatian, gagasan sulit menjangkau publik. Tanpa pemahaman, perhatian mudah dibelokkan oleh sensasi, prasangka, dan manipulasi. Perspektif demokrasi deliberatif Habermas menegaskan pentingnya pertukaran alasan dan pengujian argumentasi dalam membentuk opini publik yang rasional.
Pada akhirnya, kekuatan komunikasi publik tidak semata-mata terletak pada kemampuan membuat orang berhenti menggulir layar. Tetapi juga pada kemampuan membuat mereka berhenti sejenak untuk berpikir.
Media sosial merebut perhatian. Esai membangun pemahaman. Opini publik yang sehat membutuhkan keduanya.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Esai Kebijakan Strategis dan Esai Legal Analyst. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.